Siapa yang tidak tahu dengan Thomas Stamford Raffles, sang pendiri Singapura serta pemberi nama bagi sejumlah flora dan fauna di Nusantara. Tidak jarang pula dalam setiap penelitiannya, ia memberikan nama akhirnya untuk berbagai hasil temuan yang dilakukannya. Satu diantara penemuannya yang diketahui oleh kita semua adalah Rafflesia Arnoldii atau bunga bangkai. Didapatkan dari ekspedisinya di daerah Bengkulu (Sumatra).
Raffles tidaklah seorang penyandang gelar “Tuan”, melainkan anak dari seorang tukang masak di sebuah kapal. Bukan dari keluarga bangsawan terhormat Inggris. Ia lahir di lepas pantai Jamaika, dekat Port Morant, diatas geladak Kapal Ann, pada 6 Juli 1781. Sang ibu yang bernama Anne Lyde Linderman dan ayahnya, Berjamin Raffles memberikan nama Thomas Raffles. Nama Stamford sendiri muncul atau dicantumkan ketika ia menjadi pribadi yang dihormati di kawasan Laut Cina Selatan.
Raffles muda mulai bekerja dan belajar ketika krisis ekonomi yang dihadapi keluarganya mengharuskan ia mencari pemasukan bagi keluarga. Perusahaan Hindia-Timur yang memperkerjakannya pada tahun 1795 sebagai juru tulis, membuat Raffles menjadi seorang yang tekun dan ulet. Berkat ketekunannya dan kemaunnya yang keras, Raffles muda memulai petualangannya di wilayah Melayu karena kenaikan pangkatnya sebagai Asisten Sekretaris di perusahaan yang sama.
Penjelajahan Raffles Di Jawa
Sejarah hidup Raffles dimulai setelah ia dikirim ke Pulau Penang, Malaysia pada 1804. Dalam penjelajahannya ini, Raffles baru mencantumkan Stamford sebagai nama tengahnya. Kepribadiannya yang besar dan berpengaruh membuatnya disegani sehingga sangat dihormati. Nama Stamford digunakannya sebagai bentuk kebesarannya di kawasan Laut Cina Selatan.
Tahun 1811 adalah awal baginya untuk cinta kepada tanah Jawa, hatinya tertambat di tanah jawa setelah ia diangkat menjadi Letnan Gubernur (Lieutenant Governor of Java) , dibawah perintah Gubernur Jenderal bernama Lord Minto. Ekspedisi yang dilakukan tahun 1811 – 1817. Dalam waktu yang singkat pula, Stamford Raffles dapat menguasai bahasa Melayu.
Kecerdikan, keterampilan, dan kemampuannya serta penguasaan bahasa yang begitu cepat, mengantarkan ia sebagai pengatur siasat ekspedisi militer melawan Belanda di Jawa. Kepemimpinannya di Jawa pun tidak berlangsung lama, 1811 – 1816 adalah lamanya ia berkuasa. Singkatnya kekuasaan Raffles, bukan berarti tidak menghasilkan apa-apa karena kepemimpinannya sistem tanam paksa (Culturel Steel) yang diberlakukan oleh Belanda, diubahnya dengan sistem landrente atau pajak bumi yang diberlakukan sesuai hukum adat di tanah Jawa. Selain penerapan sistem landrente , Thomas Stamford Raffles juga membagi tanah Jawa menjadi 16 Karesidenan, serta mengurangi jabatan bupati yang berkuasa. Dan masih banyak lagi hasil dari sikap kepemimpinannya.
Penjelajahan Raffles Di Sumatra
Tak lepas dari perjanjian yang dilakukan oleh Inggris – Belanda, pada 13 Agustus 1814 mengakibatkan Konvensi London diberlakukan. Setiap wilayah yang pernah di kuasi Belanda harus di kembalikan oleh pihak Inggris. Tetapi tidak berlaku atas Bangka, Belitung, dan Bengkulu yang diterima Inggris dari Kesultanan Palembang. Secara terpaksa Raffles pun harus meninggalkan Jawa, walau pun dengan terpaksa.
Setelah empat tahun ia berada Inggris, akhirnya pada 1818, Raffles dipromosikan sebagai Gubernur Bengkulu (Bencoolen). Kesempatan ini digunakan Thomas Stamford Raffles untuk menjelajahi hutan Sumatra dengan mempekerjakan ahli botani dan binatang di luar misi imperialisme dagang yang ditugaskan oleh kerajaan Inggris.
Keberhasilannya dalam memetakan Sumatra, membuatnya kecewa karena tanah Jawa yang sedang ia jelajahi harus terpotong oleh perjanjian Konvensi London. Hatinya yang telah cinta akan ekosistem alam Sumatra dan Jawa, membuatnya memilki ambisi besar untuk menciptakan proyek mercusuar bernama “Singapore”.
Proyek Kekecewaan Bernama “Singapore”
Setelah empat tahun ia berada Inggris, akhirnya pada 1818, Raffles dipromosikan sebagai Gubernur Bengkulu (Bencoolen). Kesempatan ini digunakan Thomas Stamford Raffles untuk menjelajahi hutan Sumatra dengan mempekerjakan ahli botani dan binatang di luar misi imperialisme dagang yang ditugaskan oleh kerajaan Inggris.
Keberhasilannya dalam memetakan Sumatra, membuatnya kecewa karena tanah Jawa yang sedang ia jelajahi harus terpotong oleh perjanjian Konvensi London. Hatinya yang telah cinta akan ekosistem alam Sumatra dan Jawa, membuatnya memilki ambisi besar untuk menciptakan proyek mercusuar bernama “Singapore”.
Proyek Kekecewaan Bernama “Singapore”
Setahun pengabdiannya menjadi Gubernur di Bengkulu dan karena rasa kekecewaannya atas perpindahan tangan wilayah Jawa kepada Belanda yang berakibat terputusnya proyek botani dan arkeologinya. Pada 19 Januari 1819, Raffles menggagas sebuah proyek ambisius untuk menguasai pulau Singapura. Melalui perjanjian yang dilakukan oleh dirinya serta Temenggung Sri Maharaja, Inggris diizinkan mendirikan pusat perdagangan Singapura. Pihak Sri Maharaja akan diuntungkan dan dilindungi oleh pihak Inggris bila ada ancaman dari pihak Belanda atau pun orang Bugis.
Melalui proyek Singapore, Inggris dan perusahaan Hindia-Timur, mengubah pulau kecil ini menjadi pusat perdagangan bagi kapal-kapal yang keluar masuk di wilayah Sumatra bagian Timur tampa harus menguasai teritorial Sumatra yang menjadi bagian dari Hindia-Belanda. Kecerdikan dan kepandaian Raffles menjadikan pulau Singapura sebagai pusat perdagangan tersibuk di wilayah Laut Cina Selatan.
Selain pusat perdagangan, Thomas Stamford Raffles tidak lupa akan kecintaannya kepada satwa dan botani sehingga ia mendirikan Museum yang ia beri nama dengan Raffles Museum. Melalui Museum ini, Raffles bercita-cita dan memiliki misi untuk mencatat dan mendokumentasikan binatang dan tanaman khas yang terdapat di Pulau Sumatra dan Jawa.
Raffles Dan Jawa
Kecintaannya kepada Pulau Jawa, menghasilkan karya yang begitu fenomenal, bukan hanya penelitian tentang flora dan fauna saja, melainkan mencakup kebudayaan dan kondisi geografis Pulau Jawa. Usaha yang dilakukan Raffles pun terbilang hebat. Melalui bukunya yang berjudul The History of Java, secara gamblang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa pada kala itu. Tetapi tidak di pungkiri, Raffles yang berasal dari daratan biru melihat orang-orang jawa melalui kacamata eropa sentries, beranggapan bahwa masyarakat Jawa adalah orang-orang yang bar-bar dan suka merampok. Dalam hal lain, masyarakat Jawa adalah seorang yang licik, pendendam, dan bengis. Selain Pulau Jawa, Raffles juga berkomentar bahwa Bugis adalah bangsa yang paling tertinggal.
Raffles dapat dikatakan sebagai pendengar yang baik, dalam setiap kunjungannya kepada raja Jawa, ia selalu mencari kesempatan untuk mencari tahu sejarah atau pun kisah yang ada di tanah Jawa, di setiap tempat yang disinggahinya. Ingatannya yang kuat membuat ia selalu mencatat bagian-bagian penting dari tokoh daerah yang ia dengarkan.
Pada salah satu bab buku The History of Java, ia mendokumentasikan upacara-upacara adat yang biasa dilakukan masyarakat Jawa. Dia juga mencatat tentang kegiatan perayaan (selametan) dan kesenian di Jawa. Kesenian yang sering ia tampilkan adalah tarian tradisional dan pertunjukan wayang di abad ke-19 maupun sebelumnya. Definisinya tentang wayang pun sangatlah luas, hingga ia menamakan berbagai daerah di Pulau Jawa dengan nama-nama yang ada dalam kisah pewayangan yang menurutnya sama dengan wilayah geografis yang ada di Pulau Jawa.
Memoar Sang Gubernur
Thomas Stamford Raffles meninggal dunia pada umur tidak sampai setengah abad, kematiannya terjadi sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45 (5 Juli 1826). Kematiannya dikarenakan menderita sakit stroke. Kajiannya yang ilmiah menjadikan ia sebagai salah seorang pelopor kajian Jawa. Bukunya dan catatannya adalah sumber gagasan Barat tentang masyarakat dan kebudayaan Jawa.
Selain meninggalkan tulisan, sang penggila Jawa memiliki pencapaian hebat di negaranya Inggris. Ia orang pertama yang membawa alat musik gamelan keluar dari Tanah Jawa dan Raffles pula yang memiliki gagasan perlunya penulisan sejarah Tanah Jawa yang memiliki pesona dan surge tersendiri. Pencapaian-pencapaian tentang flora dan fauna, ia nyatakan melalui pendirian London Zoo dan Zoological Society of London.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert