
KS.id – Dalam Mengemukakan pemikiran filosofisnya, Aristoteles juga menyinggung masalah negara ideal. Menurutnya, sebagaimana pendapat umum warga Athena, negara harus ada sebagai penghargaan atas individu. Hanya melalui negara-lah, tiap-tiap individu dapat memperoleh kebebasan.
Selain itu, Aristoteles juga berpendapat bahwa manusia adalah ‘binatang politik’ yang tidak dapat hidup sendiri. Kesendirian hanya akan membuat moral manusia turun lagi menjadi binatang.
Menurutnya, manusia sebenarnya telah memiliki ‘potensi moral’ yang dibawa sejak ia dilahirkan. Potensi tersebut membedakan antara manusia dengan hewan. Nah, negara penting bagi manusia untuk merealisasikan ‘potensi moral’ tersebut.
Boleh dibilang Aristoteles berranggapan bahwa kehadiran negara mampu membuat manusia memenuhi fitrahnya. Atau memanusiakan manusia, yaitu dengan memenuhi ‘potensi moral’ nya. Berikut ini beberapa poin penting dari filosofi negara ideal milik Aristoteles.
Monarki, Aristokrasi, dan Demokrasi
Menurut Aristoteles, terdapat tiga sistem pemerintahan terbaik yang dapat diterapkan dalam suatu negara, yaitu: Monarki, Aristokrasi, serta Demokrasi. Ketiganya, menurut Aristoteles memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pertama, Monarki, adalah suatu sistem pemerintahan yang kekuasaannya berada pada tangan satu orang saja. Sistem pemerintahan seperti ini biasanya terdapat di kerajaan-kerajaan, dimana sosok raja, yang tidak jarang dianggap sebagai titisan dewa, dapat memutuskan segala sesuatu.
Tentu saja, yang dimaksud oleh Aristoteles bukanlah pemerintahan yang sewenang-wenang, melainkan sosok pemimpin yang bertanggung jawab. Menurutnya, sistem pemerintahan seperti ini dapat melenceng menjadi tirani apabila tidak dikelola dengan baik. Tirani adalah kesewenang-wenangan oleh raja.
Kedua, Aristokrasi, adalah sistem pemerintahan yang memusatkan kekuasaannya pada sekelompok kecil manusia. Mereka yang berada dalam kelompok ini haruslah yang mampu untuk mengelola urusan negara, dan dipilih dari warga negara terbaik. Kelompok ini memungkinkan beberapa kepala untuk mengatur sebuah negara, namun kebebasan rakyat tetap dibatasi.
Kelemahan sistem pemerintahan ini, menurut Aristoteles, adalah dapat melenceng menjadi oligarki. Yaitu pemerintahan yang ditujukan demi kepentingan orang-orang tertentu, yang sedikit jumlahnya dibandingkan rakyat. Selain itu, para pemimpin juga bisa mewariskan tahtanya kepada sanak saudara, bukannya kepada orang-orang yang layak.
Kemudian yang ketiga, Demokrasi, adalah suatu sistem pemerintahan yang menyerahkan kekuasaan kepada rakyat. Artinya, mereka yang duduk di pemerintahan, dipilih langsung oleh rakyat. Sementara itu, rakyat juga mengirim perwakilannya untuk mengawasi kerja pemerintahan.
Kelemahan dari sistem demokrasi adalah mudah menjadi penyelewengan yang berupa pemerintahan oleh kawanan (Mob rule.) Selain itu, dalam sistem ini, karena suara publik memegang peranan tertinggi maka pendapat minoritas biasanya kurang diperhatikan. Apa yang menjadi kebaikan untuk rakyat terbanyak akan diprioritaskan terlebih dahulu.
Aristokrasi Sebagai Sistem Terbaik
Sebagaimana filosofi hidup orang-orang Yunani, Aristoteles juga percaya bahwa kehidupan yang baik adalah tentang keseimbangan. Tidak berlebihan, juga tidak kekurangan. Aristoteles, jika dilihat dari pemikirannya mengenai negara ideal, masih memegang pandangan tersebut.
Hal itu terbukti dari ketiga sistem pemerintahan yang diungkapkannya, masing-masing diakuinya memiliki kekurangan. Ia sangat menyadari, untuk menjalani kehidupan yang seimbang, berarti juga harus mengakui akan adanya yang baik dan buruk.
Sementara itu, meskipun ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan, Aristoteles menaruh harapan yang besar pada sistem aristokrasi. Kenapa demikian? Menurutnya, akan lebih baik jika negara diatur oleh beberapa orang yang sedikit jumlahnya. Orang-orang tersebut adalah pilihan terbaik dan memiliki kecakapan untuk mengurus negara. Mereka akan terbebas dari pendapat individual, juga terbebas dari kerumitan yang disebabkan kebanyakan orang.
Pandangan ini mencerminkan filosofi hidup orang-orang Yunani yang tidak ingin kekurangan ataupun kelebihan. Jumalah yang ‘sedikit’ berada ditengah-tengah jumlah ‘satu’ dan ‘banyak.’ Itulah kenapa hasil dari beberapa orang yang sedikit jumlahnya, dengan kecakapan yang mumpuni, adalah pilihan terbaik menurut Aristoteles.
Peran Wanita Dalam Negara
Banyak orang menyayangkan pemikiran tokoh termasyhur yang terkenal dengan kecerdasan dan pribadinya yang rajin ini bila membahas soal wanita. Ia memposisikan wanita sebagai bentuk pria yang tidak sempurna. Menurutnya, wanita adalah tempat bagi para pria untuk menanamkan benih kehidupan, segala kehidupan yang muncul berasal dari pria. Sementara wanita tak lebih dari sekedar ladang yang ditanami.
Menurut Aristoteles, setiap anak yang terlahir ke dunia selalu menyimpan keturunan-keturunan dari sang ayah, bukan sang ibu. Barangkali Aristoteles sendiri tidak banyak berurusan dengan dunia wanita dan anak-anak. Itulah kenapa pandangannya terkait wanita begitu diskriminatif.
Share This :
comment 1 Komentar
more_vertsource?
10 Maret 2022 pukul 19.23