-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Logika Aristoteles: Pembahasan Lebih Mendalam

3 Mar 2019
Logika Aristoteles: Pembahasan Lebih Mendalam

KS.id – Logika adalah sistematika berpikir yang absolut, pasti, dan tidak dapat ditentang.  Untuk mengungkapkan logika, manusia menggunakan perantara bahasa.  Karena logika berasal dari pikiran, maka perwujadannya dalam bahasa, tidak dapat, atau tidak boleh lagi dipertentangkan.

Hal tersebut dikarenakan, seluruh manusia di semua zaman akan selalu menggunakan pikiran untuk merangkai bahasa.  Kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh logika untuk mengemukakan sebuah pernyataan absolut.  Disini yang akan saya bahas adalah logika Aristoteles yang berangkat dari sistem alamiah ‘akal’ manusia.

Menurutnya, akal memiliki sistem kerja bawaan yaitu ‘mengelompokkan’ atau ‘mengorganisir’ pengalaman-pengalaman yang diterimanya melalui dunia inderawi.  Kelompok ini otomatis dibentuk oleh akal ketika melihat perbedaan, seperti mengelompokkan yang gelap dan yang terang misalnya.  Akibat sistem kerja akal secara otomatis itu kita akhirnya dapat mengenal keduanya, baik itu yang ‘gelap’ maupun yang ‘terang.’

Mempersoalkan Akal Bawaan


Persoalan pertama dan yang cukup penting untuk memahami logika Aristoteles adalah akal bawaan.  Berbeda dengan gurunya (Plato), menurut Aristoteles, yang menjadi bawaan alamiah dari setiap manusia hanyalah akal.  Bukan apa yang ada di ‘dalamakal.

Akal letaknya di dunia fisik, dunia yang tampak.  Ia meyakini bahwa akal manusia memproses segala sesuatu yang ditangkap melalui indera.  Sebelum memproses, akal manusia masihlah kosong dan tidak memiliki memori apapun.

Memori manusia mulai muncul ketika akal mulai mengkategorikan ‘segala sesuatu’ di dunia fisik.  Itulah esensi akal yang sebenarnya menurut Aristoteles.

Sebelum kemunculan filsafat Aristoteles


Sebelumnya, ajaran yang umum berlaku bagi masyarakat Athena adalah filsafat Plato dimana semua ide itu terletak di dunia yang ‘lain.’  Dunia ide diletakkan Plato sebelum manusia dilahirkan.  Ia mengungkapkan bahwa manusia dilahirkan dengan setumpuk memori mengenai ide-ide benda.  Yang perlu dilakukan manusia adalah mengingat-ingat memori tersebut dengan berpikir.

Namun, pendapat Plato itu disanggah oleh logika milik Aristoteles.  Bagaimana bisa ide tersebut muncul terlebih dahulu, padahal benda-benda baru hadir di dunia fisik.  Aristoteles menggunakan argumen dengan menganalisa permasalahan secara rapi.

Pertama ia bertanya, bagaimana ide tersebut dapat muncul?  Ia menemukan bahwa tiap-tiap benda di dunia fisik memiliki perbedaan.  Maka sebenarnya ide adalah perbedaan itu sendiri.  Manusia menyebutnya ‘ide’, padahal, itu adalah kemampuan akal untuk melihat perbedaan.  ‘ide’ menurut Aristoteles adalah logika akal manusia yang dapat dengan jelas mengelompokkan ciri-ciri.

Substansi Benda


Lebih jauh lagi Aristoteles kemudian memposisikan ‘ide’ atau bisa disebut ‘ciri-ciri’ benda ini sebagai suatu substansiApa maksudnya substansi?  Maksudnya adalah ‘sesuatu’ yang ada di dalam benda tersebut dan tidak tampak oleh penglihatan manusia.

Sebstansi itu melebihisekedar perbedaan’ yang pertama kali ditangkap oleh indera manusia.  Substansi maksudnya adalah ‘bentuk.’  Suatu pengertian yang dicapai akal setelah menemukan perbedaan-perbedaan benda.

Misalnya, dengan mata telanjang, kita bisa mengetahui bahwa setiap yang hidup itu bernafas.  Tahapan itu disebut menemukan ciri-ciri melalui indera.  Lalu kita mulai membuat kesimpulan bahwa setiap yang bernafas adalah ‘mahluk hidup.’

Nah, sebutan ‘mahluk hidup’ itu adalah substansi.  Ia tidak terlihat di dunia fisik.  Yang terlihat adalah sesuatu yang bernafas.  Sementara, substansinya terletak di kepala kita, yaitu ‘mahluk hidup.’

Logika Aristoteles kemudian membawa penjelasan tersebut menuju tempat yang lebih khusus.  Mahluk hidup masih bersifat umum, sementara logika Aristoteles menuntut sesuatu yang khusus.  Maka, kita dapat kemukakan “mahluk hidup apa yang berkaki dua?” , lebih khusus lagi, “mahluk hidup apa yang berkaki dua dan mampu berbahasa?” maka jawabannya tinggal lah ‘manusia’.

Maka sebenarnya logika Aristoteles adalah suatu pernyataan bersifat umum, yang kemudian disusul oleh kemungkinan-kemungkinan yang lebih khusus, hingga menghasilkan sebuah argumen yang spesifik, jelas, dan tidak dapat dibantah. Begini jika disusun:

Setiap mahluk hidup bernafas, tapi hanya manusia yang berbahasa

Socrates bernafas dan berbahasa

Maka, Socrates adalah manusia.

Potensi, Batasan, dan Tangga Alam


Menurut Aristoteles logika di atas dapat bekerja secara spesifik karena adanya ‘potensi’ dan ‘batasan.’  Ini adalah pengelompokan lain lagi yang dikemukakan oleh Aristoteles.  Pengelompokkan yang satu ini sifatnya lebih spesifik.

Pernahkah kamu bermain tebak pikiran dengan temanmu?  Salah satu temanmu memikirkan sesuatu, boleh apa saja, baik itu tumbuhan, hewan, ataupun nama seseorang.  Sementara, yang lain berusaha menebak dengan mengajukan pertanyaan.  Jawaban yang diberikan hanya boleh ‘iya’ atau ‘tidak.’

Jika Aristoteles yang mengenal ‘potensi’ dan ‘batasan’ segala sesuatu bermain permainan tersebut, maka, pertama-tama ia akan mengajukan pertanyaan yang paling umum:

Apakah sesuatu itu benda mati?” jika ‘tidak’, ia kemudian bertanya lagi
Apakah sesuatu itu dapat bergerak sendiri?” Jika jawabannya ‘iya’, dia akan mengajukan pertanyaan lagi
Apakah sesuatu itu bisa berbicara?” kemudian anak itu menjawab ‘tidak
maka sudah jelas bahwa dia sedang memikirkan seekor hewan.

Begitulah pengelompokan dapat dicirikan melalui ‘potensi’ dan ‘batasan.’  Kedua hal tersebut juga membuat sesuatu menjadi lebih khusus.

Semua mahluk hidup punya potensi untuk bernafas, tapi hanya hewan dan manusia yang dapat bergerak sendiri.   Lebih jauh lagi, hanya manusia yang dapat berbicara menggunakan bahasa. 

Batasan-batasan itu muncul dengan sendirinya, dari mulai tumbuhan, hewan, hingga menuju ke manusia.  Aristoteles menyebutnya ‘Tangga alam.’

Demikian Aristoteles menyampaikan sistematisasi logikanya yang tidak dapat dibantah.  Yaitu sebuah permasalahan umum yang terus ditarik ke arah permasalahan khusus dengan memperhatikan ‘potensi’ dan ‘batasan’ nya. Sekian.
Share This :