-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Aristoteles: Filsafat Yang Disusun Secara Rapi

2 Mar 2019
Aristoteles: Filsafat Yang Disusun Secara Rapi

KS.id – Tiga filsuf besar yang berasal dari Athena, yaitu: Socrates, Plato, dan Aristoteles, sebenarnya adalah jajaran guru-murid yang membawa filsafat semakin maju.  Semuanya bermula dari Socrates, tokoh yang untuk pertama kalinya memfokuskan filsafatnya pada masyarakat.  Ia mengajarkan ilmu nya kepada Plato, kemudian Plato kepada Aristoteles.

Aristoteles sendiri, pergi ke akademia Plato semenjak kematian ayahnya, yaitu ketika ia berusia 18 tahun.  Ia bukan berasal dari Athena, keinginan yang membawanya untuk berguru filsafat kepada Plato.  Selama dua puluh tahun Aristoteles menimba ilmu kepada Plato, dan selama itu pula ia selalu bergaul dengan Plato.

Nama Aristoteles, bukan hanya termasyhur sebagai sosok filosof, ia juga dikenal sebagai guru dari raja Alexandros Agung (Iskandar Zulkarnain) yang mampu menaklukkan negeri-negeri dari barat hingga timur di bawah kekuasaan Macedonia.  Memang, Aristoteles sendiri merupakan tokoh yang lahir dan besar di Macedonia.  Bahkan, semasa hidup, ayahnya adalah dokter pribadi kerajaan Macedonia.

Aristoteles adalah sosok yang rajin memilah-milah dan menata ilmu pengetahuan.  Ia bahkan dikenal sebagai pendiri beberapa cabang ilmu pengetahuan.  Filsafatnya, yang mengarah pada sistematisasi akal, atau logika, sangat mencerminkan kepribadiannya yang rajin.

Kebalikan dari gurunya, Aristoteles tidak setuju dengan apa yang disebut Plato sebagai ‘dunia ide.’  Menurutnya, dunia yang ada hanyalah satu, tidak terbagi ke dalam ‘dunia ide’ dan ‘dunia inderawi.’  Sementara Plato terus berangan-angan untuk mencapai dunia ide, Aristoteles semakin rajin mengamati alam melalui inderanya.  Keduanya memiliki pandangan yang cukup berbeda mengenai dunia.

Pengantar


Aristoteles lahir di Kota Stageira, semenanjung Kalkidike, di Trasia (Balkan), salah satu wilayah kerajaan Macedonia.  Ia lahir pada tahun 384 Sebelum Masehi (SM), dan meninggal di usianya yang ke-63 pada tahun 322 SM.

Sebelum mempelajari filsafat, Aristoteles memperoleh ilmu kedokteran dari sang ayah: Machaon.  Saat itu, ayahnya adalah dokter istana yang mengabdi pada raja Macedonia Amyntas II.  Salah satu ilmu yang diajarkan ayahnya adalah teknik bedah yang tentu saja mengharuskan pemanfaatan indera untuk melakukannya.  Disinyalir, pengetahuan awal yang diterimanya dari sang ayah itulah banyak mempengaruhi pandangan filsafat Aristoteles.

Selama kurang-lebih 18 tahun, Aristoteles berada di bawah bimbingan ayahnya, hingga kematian sang ayah.  Setelah itu, Aristoteles memutuskan untuk pergi ke Athena dan mengikuti sekolah filsafat Plato di Akademia.

Aristoteles kemudian dikenal sebagai sosok yang rajin membaca dan mengumpulkan buku-buku.  Ia bahkan menyusun sebuah bibliografi sendiri untuk buku-buku koleksinya.  Itu adalah bibliografi pertama di Athena.  Plato bahkan bangga melihat muridnya yang satu ini, ia kemudian memberi julukan rumah Aristoteles sebagai ‘Rumah Pembaca.’

Setelah Plato meninggal, Aristoteles pergi meninggalkan Athena bersama seorang temannya yang bernama Xenokrates.  Mereka berdua ingin menjelajahi dunia untuk meluaskan pandangannya.  Dalam perjalanannya, Aristoteles sempat menjadi incaran pasukan Persia karena ia menetap di wilayah yang akan ditaklukkan oleh Persia.

Namun, ia berhasil melarikan diri, dan mendapatkan perlindungan dari raja Macedonia.  Itulah momen dimana Aristoteles diminta mengajari Alexandros (Iskandar Zulkarnain), putra raja Macedonia, yang saat itu baru berusia 13 tahun.  Aristoteles kemudian menyetujuinya dan menetap di istana kerajaan selama 7 tahun.

Setelah itu, Aristoteles pergi ke kota kelahirannya, yaitu Stageira, dan menetap di sana selama beberapa tahun.  Ia menenangkan pikiran di sana, kemudian menulis sejumlah pengetahuan yang didapatkannya dari perjalanan ke berbagai tempat.

Pada usia 50 tahun, Aristoteles memutuskan untuk kembali ke Athena.  Ia terkejut melihat Athena bukan lagi tempat seperti dulu ketika ia bersekolah di akademia Plato.  Athena saat itu, berada di bawah kekuasaan Macedonia, dengan raja baru, yang tidak lain adalah muridnya, Alexandros.

Dengan bantuan muridnya tersebut, Aristoteles akhirnya berhasil mendirikan sekolahnya sendiri di Athena yang bernama Lykeion.   Selama dua belas tahun lamanya, Aristoteles mengajar di Athena.  Selain itu, di sana juga tulisan yang dikarang nya bertambah banyak.  Sebagaian besar karya tulisnya dibuat pada masa itu.

Namun, keadaan Athena menjadi kacau semenjak kematian raja Alexandros.  Pemberontakan muncul dimana-mana dan menentang kekuasaan Macedonia.  Aristoteles terkena imbas kekacauan tersebut dan dituduh merusak kepercayaan warga Athena.

Berkaca pada kisah Socrates, Aristoteles tidak ingin warga Athena membuat dosa yang sama lagi dengan membunuhnya.  Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Kalkis, tempat dimana ia akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah mentap di sana selama setahun.

Filsafat Aristoteles Mengenai Ide


Perbedaan mendasar antara Plato dan Aristoteles terletak pada penempatan ‘ide.’  Plato meletakkan ide sebagai suatu wujud sempurna di dunia akal, dunia tak kasat mata.  Sementara, dunia yang tampak oleh mata kita hanyalah tiruan dari dunia ide yang maha sempurna.  Ide mendahului segala sesuatu yang kita lihat, dan merupakan bawaan alamiah sejak kita lahir.

Sementara itu, menurut Aristoteles ide tidak terpisahkan dengan dunia.  Justru ide-ide tersebut muncul setelah kita mengamati dunia.  Ia menyetujui pemikiran Plato bahwa ide adalah ‘esensi’ dari suatu benda.  Kita dapat mengingat ‘ide kucing’ meskipun kucing tersebut telah mati.  ‘ide kucing’ tidak akan mati, karena ia merupakan esensi.

Namun, Aristoteles menolak tesis bahwa ide tersebut merupakan bawaan dari lahir.  Menurutnya, satu-satunya yang menjadi bawaan adalah akal manusia.  Ide-ide letaknya ada di masing-masing benda.

Dengan akal, kita menemukan ide yang ‘tersembunyi’ dibalik benda tampak.  Namun, terlebih dahulu kita harus menggunakan indera untuk melihat ataupun merasakannya, baru ide tersebut muncul.

Itulah kenapa Aristoteles menolak keberadaan ‘dunia ide.’  Menurutnya, Plato yang juga gurunya selama 20 tahun di akademia, lebih mengarah pada penjelasan mitologis dengan ‘dunia ide’ nya.  Ia sendiri mengaku bahwa menaruh hormat yang besar kepada Plato, namun, ia mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban untuk lebih “Memberi kehormatan pada kebenaran.”

Pengelompokan Menurut Aristoteles


Sebagaimana sifat aslinya, Aristoteles adalah sosok yang secara tekun mengelompokkan segala sesuatu berdasarkan kategori, begitu juga pemikirannya.  Tulisan-tulisan Aristoteles terkenal dengan ke’detail’annya dalam mengupas sesuatu.  Ia bahkan filosof pertama yang menuliskan buku-bukunya berdasarkan topik tertentu, bukan secara umum.

Seperti yang sudah sedikit saya bahas, pengelompokan pertama dari Aristoteles adalah memisahkan antara benda materi dan benda ide.  Menurutnya ide adalah konsep adalah cetakan blue print yang akan terus ada di kepala manusia.

Namun, ide tersebut bukan berasal dari dunia yang lain, tapi berasal dari pengalaman indera manusia.  Itulah kenapa ‘kesadaran’ menurut Aristoteles disamakan dengan merasakan melalui indera.

Lalu, bagaimana ide-ide tersebut dapat beragam bentuknya?  Aristoteles mengungkapkan bahwa manusia dibekali oleh akal bawaan.  Sifat akal tersebut adalah ‘mengelompokkan.’

Misalnya, melalui mata kita melihat: pohon yang memiliki daun, dan hewan yang berbulu.  Akal kita akan mengingat ide.  Setelah itu, akal secara otomatis akan membuat dua kelompok, yang satu berdaun, dan yang satu lagi berbulu.

Maka, setiap kita melihat sesuatu yang berdaun, akal akan mengingat ide tersebut, dan mengenali itu sebagai ‘pohon.’  Begitupula ketika kita melihat sesuatu yang berbulu, akal secara otomatis akan mengarahkan kita pada 'hewan.'

Begitulah sistem kerja akal kita yang menangkap sesuatu, dan memasukkannya ke dalam kategori-kategori.

Lalu bagaimana jika kita menemukan sesuatu di luar kategoriSeperti tumbuhan yang berbulu misalnya?  Disini menurut Aristoteles, akal akan kembali ke pekerjaan awalnya, yaitu membuat sebuah kelompok baru, kategori baru.

Logika Aristoteles


Selain ide dan sistem kerja akal yang mengelompokkan, Aristoteles juga mengemukakan filsafat mengenai logika.  Dalam banyak literatur, Aristoteles bahkan disebut sebagai bapak pendiri logika.  Logika yang dimaksud Aristoteles tidak jauh dari sistem kerja akal yang berusaha mengelompokkan sesuatu.  Namun, kali ini kecondongannya lebih ke arah ‘potensi’ dan ‘batasan

Logika Aristoteles adalah pernyataan yang menggiring dari ‘sifat umum’ menjadi ‘sifat khusus.’  Menggiring sesuatu yang umum menjadi lebih terperinci.  Menggiring yang besar jumlahnya menjadi yang paling sedikit.

Sederhananya, logika Aristoteles membedakan tiga tingkatan kehidupan berdasarkan potensi dan batasannya, yaitu: Tumbuhan, Hewan, dan Manusia.

Tumbuhan memiliki potensi untuk bernafas, namun tidak dapat bergerak sesuai kehendaknya.  Binatang memiliki potensi untuk bernafas dan bergerak, itulah sebabnya mereka mempunyai hawa nafsu.  Namun, binatang memiliki batasan, yaitu tidak dapat berpikir.  Sementara, manusia adalah puncak dimana semua batasan tersebut menghilang.  Potensi manusia adalah untuk bernafas, bergerak, serta berpikir.

Dengan memperhatikan ‘potensi’ dan ‘batasan’, logika Aristoteles kemudian mampu menyusun sebuah kesimpulan begini:

Aku menemukan sesuatu yang hidup dan bergerak, maka itu adalah salah satu antara hewan dan manusia.  Namun, jelas sekali bahwa ia tidak dapat berpikir dan berkomunikasi, maka ia adalah seekor hewan.

Demikian.
Share This :