-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

4 Poin Penting Filsafat Aristoteles

4 Mar 2019
4 Poin Penting Filsafat Aristoteles

KS.id – Aristoteles, seperti yang telah saya tulis sebelumnya, adalah seorang murid akademia Plato yang cukup cerdas dan rajin. Ia menyusun berbagai pemikirannya ke dalam sebuah sistematisasi yang jelas dan terarah. Banyak orang menduga bahwa itu adalah ilmu yang diberikan bapaknya, yang berprofesi sebagai dokter.

Aristoteles mulai pergi ke akademia Plato sejak kematian bapaknya, tepatnya, saat itu ia berusia 18 tahun. Ia menimba ilmu disana selama 20 tahun lamanya, sebelum akhirnya pergi dan memutuskan untuk mengelilingi dunia. Berikut ini adalah beberapa poin penting dari pemikiran Aristoteles.

1. Kepercayaan Terhadap Indera


Aristoteles adalah seorang filosof yang menaruh perhatian besar kepada pengalaman inderawi. Menurutnya, akal bekerja setelah kita mendapatkan sesuatu melalui indera, baik itu penglihatan, pendengaran, ataupun perabaan. Jadi indera itu mendahului pemikiran kita, kita melihat sesuatu, barulah kita memikirkan sesuatu itu. Jika tidak melihatnya, maka kita tidak bisa memikirkannya.

Selain itu, Aristoteles beranggapan bahwa suatu kesadaran itu tercipta karena ‘tertangkap’ indera. Karena penangkapan tersebut kita jadi mengenal dunia. Secara tidak langsung kita juga sadar bahwa kita berada di dunia ini.

2. Menolak Dunia Ide Plato


Plato, guru Aristoteles, mengungkapkan bahwa sebelum ada dunia ‘yang tampak’ kita semua, umat manusia, berada di ‘dunia ide.’

Dunia ide adalah sebuah dunia tak tampak yang penuh dengan kesempurnaan. Dunia tersebut kita alami sebelum terlahir ke dunia yang tampak. Sayangnya, setelah terlahir, menurut Plato, kita kehilangan semua ingatan mengenai dunia ide tersebut. Yang ada hanya bayang-bayang.

Namun, menurut Plato, kita dapat mengakses kembali ingatan sewaktu di dunia ide dengan akal kita. Kita dapat menjangkau ‘ide-ide sempurna’ hanya dengan akal kita, bukan indera. Sudah seharusnya kita tidak memperdulikan dunia yang tampak dan berusaha sekeras mungkin untuk menjangkau dunia kesempurnaan, yaitu dunia ide.

Nah, sebagai salah satu murid Plato, Aristoteles justru menolak gagasan ‘dunia ide’ tersebut. Menurutnya tidak ada ‘dunia ide’ yang terpisah dari dunia yang tampak. Ide-ide itu, menurut Aristoteles, terletak di tiap-tiap benda. Kita melihat dan merasakan benda tersebut, dan akhirnya kita mempunyai ‘ide’ mengenai benda tersebut. Satu-satunya yang dibawa sejak manusia dilahirkan, menurut Aristoteles, adalah akal, buakannya ingatan akan dunia ide.

3. Potensi dan Batasan


Di satu sisi Aristoteles sepakat dengan pendapat Plato bahwa esensi setiap benda itu ‘tak-tampak.’ Apa yang tampak itu bukanlah esensi, melainkan materi yang selalu berubah-ubah. Esensi itu tetap, kekal, dan akan selalu sama sampai kapanpun dan dimanapun.

Misalnya, jika kita melihat seekor kuda, kita akan menyimpan ‘esensi’ dari kuda itu di pikiran kita. Tidak peduli jika nantinya kuda tersebut akan mati. Esensi mengenai kuda yang berkaki empat, memiliki rambut ekor, serta bibir yang agak monyong akan selalu ‘ada’ dalam pikiran kita.

Itulah ‘esensi’ dari suatu benda, dan merupakan bagian terpenting, dalam hal ini ia setuju dengan gurunya, Plato. Menurutnya, esensi dapat ditangkap manusia melalui proses ‘alamiah’ akal yang selalu bekerja dengan sistem pengelompokan. Pengelompokan tersebut disebut Aristoteles sebagai ciri-ciri segala sesuatu.

Ketika kita melihat sebuah batu di samping seekor kuda misalnya, akal kita akan langsung mengelompokkan dua hal tersebut menjadi ‘benda mati’ dan ‘mahluk hidup.’ Karena kita dengan jelas melihat bahwa batu itu tidak bergerak sama sekali. Juga tidak bernafas, maka dari itu, dia, batu itu, adalah benda mati.

Kemampuan akal untuk mengelompokkan ini menurut Aristoteles berkaitan dengan apa yang disebutnya sebagai ‘potensi’ dan ‘batasan.’ Akal kita akan langsung mengenali ‘batasan’ benda mati ketika melihat batu, bahwa benda tersebut tidak dapat bergerak dan bernafas. Sementara, ‘potensi’ kuda untuk bernafas, bergerak, serta bersuara akan langsung membawanya pada kelompok ‘mahluk hidup’ yang telah ada di dalam akal kita.

4. Tujuan Akhir


Poin terakhir yang cukup penting dari pemikiran Aristoteles adalah ia selalu percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia pasti memiliki sebuah tujuan akhir. Dibalik turunnya hujan misalnya, Aristoteles selalu percaya bahwa itu bertujuan untuk menyuburkan tanaman. Begitu juga dengan bergantinya siang dan malam yang menjaga kehidupan tetap teratur.

Dalam hal ini, pemikiran Plato sangat dekat dengan apa yang kita sebut Tuhan. Yaitu kekuatan yang mengatur segala sesuatu demi kebaikan mahluk hidup. Begitulah Plato percaya bahwa setiap penciptaan pasti memiliki tujuan.

Berbeda dengan Democritus misalnya, yang percaya bahwa dunia hanyalah ‘pergerakan atom.’ Dunia Democritus tidak memiliki tujuan, sementara Aristoteles tidak demikian.
Share This :