
KS.id – Yunani adalah tempat dimana akal manusia menjadi merdeka. Kemerdekaan tersebut ditandai mulanya dengan menjauhkan diri dari mitos. Orang Yunani kuno percaya bahwa untuk mencapai kebenaran sejati, yang dibutuhkan manusia hanyalah indera dan akal sehat, salah satunya adalah Socrates.
Socrates dilahirkan di Athena, salah satu polis Yunani, pada tahun 470 Sebelum Masehi (SM.) Ayahnya adalah seorang pembuat patung, sementara ibunya adalah seorang bidan. Awalnya ia ingin meneruskan profesi ayahnya sebagai seorang pembuat patung, namun, hati nurani Socrates membawanya menjadi seseorang yang lebih mencintai kebenaran.
Keseharian Socrates adalah berkeliling di wilayah alun-alun kota Athena. Ia berbicara dengan siapa pun yang ia temui, tidak memandang status sosialnya. Baginya, berbicara kepada manusia lain adalah kesenangan tersendiri. Selain itu, Socrates juga percaya bahwa dialog adalah cara untuk mencapai kebenaran.
Kebenaran Bagi Socrates
Dengan dialog, Socrates mencari sebuah kebenaran sejati yang akan menuntun perilaku manusia. Ia mempertanyakan segala hal kepada orang-orang yang ditemuinya. Pertanyaan tersebut, sering kali membuat orang itu berpikir dan menyadari bahwa pengetahuannya sedikit.
Pertanyaan Sokrates cenderung dalam dan mempertanyakan esensi. Pertanyaan akan membuat orang yang berbicara dengannya kebingungan dan mulai berpikir tentang hakikat kehidupan. Sementara itu, Socrates hanya berperan sebagai orang yang tidak mengetahui apapun.
Socrates begitu menggandrungi dialog. Hal tersebut dapat membuatnya mengetahui banyak hal, serta mengajak orang-orang yang ditemuinya untuk berpikir. Ia sendiri bahkan pernah mengungkapkan bahwa: “Pohon-pohon di pedesaan tidak mengajarkan apapun kepadaku.” Itulah kenapa Socrates pergi ke alun-alun dan berbicara pada banyak orang.
Socrates dan Kaum Sofis
Semasa hidup, Socrates memiliki keyakinan bahwa kebenaran itu satu. Artinya, kebenaran itu berlaku umum, tidak memandang tempat, waktu, bahkan usia. Menurutnya kebenaran dapat diraih dengan akal sehat, dan semua orang memilikinya, baik itu seorang raja maupun seorang budak yang saat itu statusnya terhina.
Bagaimana untuk mencapai kebenaran? Menurut Socrates orang-orang harus mau mengajukan pertanyaan lalu memikirkannya. Socrates sendiri memposisikan dirinya bagaikan penyengat bagi kuda yang lemas, yaitu orang-orang Athena. Ia melakukan sengatan dengan pertanyaan-pertanyaan nya yang radikal (mendasar.) Tujuannya? Agar kuda tersebut, yang tidak lain adalah akal orang-orang Athena, dapat berlari sekencang-kencangnya.
Namun, pendapat Socrates itu sangat berbeda dengan sekelompok pengelana yang saat itu cukup populer di Athena. Mereka adalah kaum Sofis. Menurut mereka, kebenaran itu beragam. Kebenaran hanyalah apa yang dipercayai dan diterima oleh banyak orang.
Sebagai kaum pengelana, mereka telah melihat sendiri bahwa kebenaran tak ubahnya sebatas pendapat mayoritas. Tidak ada kebenaran yang bersifat umum. Tiap-tiap wilayah yang pernah mereka lalui memiliki kebenaran sendiri-sendiri yang dirumuskan berdasar pada kesepakatan bersama.
Pendapat kaum sofis saat itu cukup populer di kalangan pemuda Athena. Mereka bahkan membuka kursus untuk putera-puteri Athena yang ingin memasuki dunia politik ataupun yang ingin belajar mengenai ilmu manusia. Mereka mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut.
Bertentangan dengan semua hal itu, Socrates justru mengungkapkan bahwa ia ingin membenarkan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh kaum sofis. Menurutnya, kaum sofis hanyalah mengajarkan sebuah keahlian berpikir dan bukan sebuah perenungan yang akan memperbaiki martabat manusia.
Hal tersebut penting bagi Socrates, karena ia sendiri percaya bahwa tindakan yang benar dituntun oleh pengetahuan yang benar. Kebenaran itu absolut dan pasti, "gunakanlah akalmu!", begitu kata Socrates. Jika mereka, kaum sofis, mengajarkan kebenaran yang tidak pasti, maka akan kacau segala tingkah laku manusia. Socrates akhirnya semakin menyadari jalan hidupnya, yaitu meluruskan kembali warga kota Athena.
Lawan dan Kawan Socrates
Mencari kebenaran tidaklah mudah, begitu juga yang dialami oleh Socrates. Perlahan tapi pasti, banyak pemuda-pemuda Athena yang menaruh minat pada Socrates, namun banyak juga pihak yang membencinya. Pemuda Athena cenderung berpikiran terbuka, tidak banyak hal yang harus mereka pertahankan. Itulah kenapa mereka menggandrungi sengatan Socrates.
Sementara itu, para pemimpin serta politisi Athena justru menaruh benci padanya. Wajar saja, seringkali, orang yang sudah terkenal hebat, pandai, serta termasyhur, dibuat tak berdaya di hadapan pertanyaan Socrates. Memang begitulah sifat Socrates, ia tidak memandang tua, muda, kaya ataupun miskin. Ia hanya ingin menemukan kebenaran bersama-sama.
Salah satu penuturan Socrates yang cukup terkenal adalah “Satu-satunya yang aku ketahui adalah aku tidak tahu apa-apa.” Benar saja, setelah mengungkapkan prinsip hidup nya yang seperti itu, Socrates langsung dikenal sebagai pemberi pertanyaan yang radikal. Tidak jarang pertanyaannya membuat orang sadar akan kelemahannya.
Bagi orang-orang bermartabat yang harus menjaga wibawanya di hadapan publik, pertanyaan-pertanyaan Socrates tentu sangat mengganggu. Beberapa pertanyaan dari Socrates sepertinya lebih mematikan daripada ribuan jawaban dari lawan politiknya. Memang saat itu, Athena adalah sebuah kota yang termasyhur karena sistem demokrasi-nya, tidak jarang orang-orang cerdas dan bermartabat menjadi politisi di sana.
Puncaknya adalah tuduhan para politisi yang akhirnya membuat Socrates dipanggil ke pengadilan. Pengadilan berjalan alot, sampai akhirnya, pendapat terbanyak mengharuskan Socrates dihukum mati pada tahun 399 SM. Socrates meninggal dengan tenang, namanya bahkan semakin terkenal.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert