-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Sejarah Kematian Socrates: Filsuf Paling Berpengaruh di Athena

27 Feb 2019

KS.id – Bertanya mungkin menjadi hal yang biasa untuk sesorang yang tidak mengetahui sesuatu.  Tapi bagaimana jadinya jika seseorang memposisikan dirinya sebagai ‘orang yang tidak tahu apa-apa’?  Orang tersebut akan terus menerus bertanya.  Itulah tepatnya yang dilakukan Socrates.

Bertanya adalah seni berdiskusi yang ditunjukkan oleh Socrates.  Ia tidak berusaha menggurui seseorang dengan berbagai penjelasan.  Yang dilakukannya hanyalah bertanya.  Seperti katanya, “Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

Terkesan sederhana memang.  Namun, dalam banyak kasus, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Socrates memaksa orang-orang Athena untuk berpikir.  Ya, Socrates adalah seorang filsuf yang menggemari dialog.  Dia pergi ke alun-alun kota, pasar-pasar, untuk melakukan diskusi dengan berbagai orang, tidak peduli tua, muda, kaya, ataupun miskin.

Tujuannya hanyalah satu, yaitu membantu orang-orang untuk berpikir dan menggunakan akalnya dengan ‘benar.’  Socrates merasa bahwa dirinya telah menerima panggilan ilahi yang menuntunnya untuk melakukan itu semua.  Keresahannya adalah ketidak-tahuan manusia, pengetahuan manusia yang sedikit, serta pola pikir yang salah.

Jika Socrates bertemu dengan seseorang yang berpikiran sempit ataupun memiliki pemikiran yang salah menurutnya, ia akan mulai mengajukan berbagai pertanyaan yang mendasar, entah itu tentang kehidupan, etika, kebaikan, maupun kejahatan.

Orang tersebut akan ‘dipaksa’ nya untuk berpikir.  Sementara Socrates akan berpura-pura menjadi orang yang lebih dungu dari yang seharusnya.  Ketika orang itu sudah terpojok, ia akan mengetahui bagian mana yang salah darinya.  Ketika itu sudah terjadi, maka apa yang dituju oleh Socrates telah tercapai.

Tidak jarang kelakuan Socrates itu menyebabkan orang-orang Athena dipermalukan di depan publik.   Socrates sendiri beranggapan bahwa dirinya bagaikan penyengat yang membuat orang-orang Athena semakin beringas dalam berpikir.  Meskipun banyak dicintai karena membantu berpikir, namun tidak sedikit juga yang membencinya karena pernah dipermalukan.

Tuduhan Bagi Socrates


Kebanyakan orang Athena yang membenci Socrates adalah orang-orang yang bermartabat, maupun politikus dan pernah dipermalukan olehnya.  Sementara itu, para pemuda justru mencintainya karena keagungan dan kebijaksanaannya.

Filsafat Socrates memanglah seperti itu.  Baginya, pengetahuan itu berasal dari dalam.  Yang perlu dilakukan oleh orang-orang Athena hanyalah melihat ke dalam dirinya dan kemudian memanfaatkan yang ada di sana, yaitu akal.

Aktivitas berfilsafat Socrates mencapai puncaknya ketika ia dituduh merusak kepercayaan umum dan mengajarkan dewa-dewa baru kepada pemuda Athena.  Ia dipanggil ke pengadilan atas tuduhan tersebut.  Sembari menunggu keputusan, Socrates berdiam diri dalam jeruji besi.

Socrates sempat diberi tawaran pengampunan jika ia menghentikan aktivitas filsafatnya.  Namun, tawaran tersebut ditolak olehnya karena ia merasa bahwa yang dilakukannya adalah benar.

Begitupun dengan tawaran rekan-rekannya yang mengajaknya pergi meninggalkan Athena menuju ke Megara.  Tawaran tersebut ditolak Socrates karena ia masih ingin mematuhi hukum yang ada di Athena sebagai warga kota yang baik.

Hukuman Mati Untuk Socrates


Pengadilan akhirnya digelar untuk memutuskan hukuman bagi Socrates.  Jumlah juri yang hadir saat itu sebanyak 500 orang.  Socrates di dakwa atas tuduhan “Memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda.”

Ketika diberi waktu untuk melakukan pembelaan, Socrates dengan tegas mengatakan bahwa yang dilakukannya justru membantu warga kota Athena.  Bahkan, menurutnya, ia layak untuk mendapatkan upah atas aktivitas tersebut.  Ia juga menuntut untuk diberi makan oleh negara selama ia menjalankan aktivitas filsafatnya itu.

Mendengar pembelaan Socrates yang begitu frontal, rekan-rekan, serta para hakim yang mendengarkannya hanya tercengang.  Terutama para hakim, mereka merasa bahwa pernyataan Socrates tersebut telah menyinggung martabat pengadilan.

Akhirnya ketika keputusan diambil, Socrates dinyatakan bersalah dan harus dihukum mati dengan meminum racun cemara.  Jumlah putusan dari para juri yang hadir saat itu sangatlah tipis.  Namun akhirnya Socrates divonis bersalah.

Menjelang Kematian Socrates


Dalam banyak literatur disebutkan bahwa Socrates menerima putusan pengadilan Athena dengan sikap yang tegas dan berani.  Ia tetaplah Socrates seperti yang sebelumnya.  Selalu teguh dengan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Dalam novel Dunia Sophie kasus kematian Socrates ini dianggap serupa dengan kasus yang menimpa Yesus.  Mereka berdua adalah tokoh yang tetap berpegang teguh pada pendirian mekipun nyawa adalah taruhannya.  Jika dilihat lebih jauh lagi, semenjak kematiannya, kedua tokoh tersebut justru memiliki begitu banyak pengikut.  Ajarannya pun justru tersebar luas ke seantero dunia.

Kisah menjelang kematian Socrates ini juga ditulis oleh salah satu muridnya, yaitu Plato.  Dalam tulisannya Plato mengisahkan bahwa menjelang kematiannya, Socrates terlihat tenang dan sabar.  Aura wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Seorang sipir penjara bahkan menyampaikan kekagumannya pada sosok Socrates, yang baru dikenalnya sebentar saja.  Namun, ia tidak dapat berbuat banyak dan harus menuruti perintah atasannya.  Ia dan banyak orang di luar penjara merasakan kesedihan yang teramat mendalam atas putusan hukuman mati Socrates.

Sampai akhirnya, Socrates pun meminum segelas racun cemara yang membuat tubuhnya mati rasa.  Sebelum pengaruh racun tersebut sampai ke jantung, Socrates sempat berpesan pada seorang temannya yang bernama Crito, bahwa ia memiliki hutang.  Crito pun menyanggupi untuk membayar hutang tersebut.  Socrates pun meninggal dengan tenang.
Share This :