
KS.id – Socrates adalah seorang filsuf yang cukup misterius. Tidak banyak yang dapat kita ketahui tentangnya selain apa yang dituliskan oleh Plato, muridnya. Kelemahan dari tulisan Plato adalah ia memasukkan pendapatnya ke dalam mulut Socrates, solah-olah itu adalah kata-kata Socrates.
Namun, meskipun tidak ada sumber tertulis langsung, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari sosok Socrates yang ditulis Plato. Setidaknya ada 4 poin penting disini yang dapat saya simpulkan setelah membaca novel Dunia Sophie. Ya, Dunia Sophie lagi, karena buku itu adalah favorit saya hahaha....
Namun, ada baiknya memang pemikiran para filsuf tidak disimpulkan begitu saja, itulah kenapa saya membuat tulisan lain juga yang bisa kamu baca disini dan disini. Kesimpulan ini saya buat agar para pembaca lebih tertarik lagi dengan tokoh yang satu ini. Atau, lebih bagus lagi ikut membaca dan memahami Dunia Sophie hehehe...
Langsung saja, begini pembahasannya....
1. Kepercayaan Terhadap Akal Manusia
Socrates adalah seorang tokoh rasionalis. Apa maksudnya rasionalis? Rasionalis adalah orang yang mempercayai akalnya lebih dari inderanya. Meskipun kecondongan rasional ini baru akan semakin diperjelas oleh muridnya, Plato.
Namun, kepercayaan Socrates terhadap akal manusia bukan tanpa sebab. Socrates hidup ketika paham-paham yang dibawa oleh kaum sofis merajalela di Athena. Kaum sofis ini adalah kaum pengelana yang mengemukakan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung pendapat mayoritas.
Itulah yang kemudian ditentang oleh Socrates. Ia meyakini bahwa kebenaran itu pasti, bukan relatif. Kita semua, umat manusia, telah dibekali akal yang dapat membedakan mana yang benar dan salah.
Kepercayaan terhadap akal manusia itu membuat Socrates akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan profesi ayahnya sebagai pembuat patung. Ia pergi ke alun-alun kota dan pasar-pasar yang ada di Athena untuk membuktikan kemampuan akal nya serta akal manusia secara umum. Ia berbicara kepada orang-orang Athena, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memaksa mereka berpikir.
Bagi Socrates, pengetahuan itu berasal dari dalam. Itulah kenapa baik itu tua, muda, kaya, maupun miskin, dapat mencapai pengetahuan tersebut dengan akalnya. Hanya saja, mereka membutuhkan sosok bidan yang mampu mengeluarkan pengetahuan tersebut, disitulah tepatnya Socrates hadir. Ia seringkali membayangkan dirinya sebagai bidan seperti ibunya, hanya saja, yang dilahirkannya adalah pengetahuan yang benar.
2. Mencintai Dialog dan Diskusi
Socrates pernah menjelaskan bahwa “pohon-pohon di pedesaan tidak mengajarkan apapun kepadaku.” Dia yakin bahwa yang dapat memberikan ilmu sejati kepadanya adalah manusia. Dan ilmu tersebut dapat tersampaikan melalui dialog dan diskusi.
Ya, Socrates adalah sosok yang mencintai dialog dan diskusi. Dalam satu kesempatan, itu akan membuktikan kemampuan akal manusia. Dalam kesempatan lain juga dia jadi mendapat banyak pengetahuan baru.
Socrates bahkan termasuk orang yang cukup mahir dalam berdiskusi. Ia memancing lawannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan. Kemudian ketika lawan bicaranya mulai kehabisan kata-kata, ia memaksa lawan bicaranya tersebut untuk menyetujui argumennya. Dalam banyak diskusi, hal tersebut dilakukan Socrates untuk membuat orang-orang Athena berpikir.
3. Tidak Pernah Puas
Satu ungkapan Socrates yang sangat terkenal sampai saat ini adalah: “Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Socrates adalah sosok yang tidak pernah puas untuk belajar. Ia selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang sedikit ilmunya.
Itulah kenapa kemudian Socrates mengajukan pertanyaan. Ia selalu ingin tahu banyak hal. Ditengah perjalanannya, Socrates berbicara kepada banyak orang yang beragam usia, profesi, bahkan status sosialnya.
Satu kepercayaan yang selalu dipegang teguh oleh Socrates adalah: “Pengetahuan yang benar akan menuntun pada perilaku yang benar.” Ia mencari tahu tentang apa itu kehidupan, etika, kebaikan, serta kejahatan. Hal tersebut dilakukannya barang kali karena perasaan resah yang menghantuinya. Resah karena masih ‘tidak mengetahui apa-apa.’
4. Gagasan Mengenai Norma Universal
Hal terakhir yang pasti dari pemikiran Socrates adalah keyakinan akan adanya Norma Universal. Apa yang dimaksud norma universal? Maksudnya adalah tata aturan mengenai yang baik dan buruk itu berlaku di semua tempat dan sepanjang zaman.
Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, Socrates percaya bahwa akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itulah kenapa yang baik dan buruk tidak mengenal batasan, atau akan berlaku sepanjang zaman.
Poin ini adalah poin terpenting yang membuat Socrates menentang kaum sofis. Menurutnya, mereka (kaum sofis) hanya mengajarkan keahlian saja. Dengan keahlian tersebut, yang mereka lakukan adalah merusak tatanan berpikir manusia.
Seperti keyakinannya, bahwa perilaku yang baik itu dituntun oleh pengetahuan akan yang baik pula. Maka, sudah jelas bahwa yang baik itu ‘pasti’ dan tidak ‘relatif’, serta berlaku ‘terus-menerus’ dan bukan hanya ‘sementara.’
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert