
KS.id – Membahas mengenai dunia ide yang dikemukakan oleh Plato memang menjadi tantangan tersendiri. Seperti kata bung Hatta, dalam bukunya yang berjudul: Alam Pikiran Yunani, filosofi dunia ide menemukan kesulitan penjabaran karena selalu berkembang. Bermula dari ajaran logika, pandangan Plato berkembang ke arah dasar umum bagi ilmu, politik, sosial, bahkan agama.
Awalnya dunia ide yang dimaksud oleh Plato disangkutkan dengan logika matematika. Kita dapat membuat sebuah lingkaran sempurna dalam matematika. Namun, ketika kita melihat sebuah donat misalnya, kita akan menyangkanya berbentuk lingkaran, sementara orang lain mungkin melihatnya sedikit oval. Dunia ide adalah tempat benda-benda ideal, seperti yang terjadi dengan logika matematika tersebut. Kenyataannya, tidak pernah ada lingkaran ideal.
Setelah itu, Plato mengasumsikan bahwa logika tersebut juga berlaku dalam ranah kemanusian, yaitu sosial dan politik. Bahwa dalam urusan tersebut, seperti apa yang dipercaya Socrates, manusia dapat menggunakan akal-nya untuk mendapatkan pemahaman ideal. Akal akan selalu menuntun menuju dunia ide.
Persoalan Filosofi Sebelum Plato
Untuk mengetahui arah berpikir Plato, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu pemikiran yang hadir sebelumnya. Para pemikir itu, termasuk Socrates, banyak mempersoalkan mengenai apa yang ‘kekal’ dan apa yang ‘selalu berubah.’ Namun, semuanya belum sampai kepada suatu konsep yang jelas.
Pada kasus filsuf alam misalnya, pendapat para filsuf berkisar pada ‘alam yang tetap’ dan ‘alam yang selalu berubah.’
Menurut pendapat yang pertama, seluruh alam, atau segala sesuatu di dunia, tersusun dari partikel-partikel pembentuk yang sama. Itulah kenapa alam selalu tetap, tidak berubah, tidak bertambah banyak ataupun sedikit. Karena sejatinya, alam adalah pertikel-partikel tersebut. Yang tertangkap indera manusia hanyalah sebatas prasangkaan belaka.
Sementara itu, menurut pendapat yang kedua, alam selalu berubah dan itu tertangkap oleh indera kami, begitu kata mereka. Jika alam tidak berubah, maka tidak ada kehidupan. Perubahan pada alam dimisalkan dengan adanya pertentangan antara yang panas dan dingin, terang dan gelap, dsb. Perubahan terjadi karena selalu ada pertentangan, seperti siang dan malam, itulah kehidupan. Jika tidak mengenal malam, maka kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya pagi.
Kemudian pertentangan juga terjadi setelah periode filsuf alam, yaitu antara Socrates yang berada pada sisi ‘kekekalan’, dan kaum Sofis yang berada pada sisi ‘selalu berubah.’
Menurut Socrates, perkara baik dan buruk itu tetap, kekal, tidak berubah, serta tidak dipengaruhi oleh tempat dan waktu. Kenapa demikian? Karena, menurut Socrates, perkara tersebut dapat ditemukan kebenarannya menggunakan akal.
Sementara, seluruh manusia, baik itu tua, muda, kaya, ataupun miskin memiliki akal yang sama, artinya, perkara baik dan buruk itu sama bagi seluruh manusia. Ditambah lagi, karena akal merupakan fitrah manusia yang dibawanya sejak lahir, maka apa yang disebut ‘baik dan buruk’ akan terus sama sepanjang zaman.
Sementara itu, di sisi lain, kaum sofis sebagai pengelana menemukan bahwa perkara baik dan buruk itu relatif, terikat oleh ruang dan waktu. Tiap-tiap wilayah yang mereka datangi, memiliki pengertian ‘baik dan buruk’ yang berbeda-beda. Perkara baik dan buruk buat mereka, tidak lebih dari sekedar kesepakatan bersama masyarakat. Lebih jauh lagi, kaum sofis juga mengungkapkan bahwa keadilan adalah kepentingan golongan yang kuat.
Pemikiran-pemikiran di atas kemudian membentuk apa yang dilahirkan Plato sebagai ‘dunia ide.’ Kita juga harus mengetahui bahwa Plato terbilang cukup ahli, serta banyak mempelajari urusan filsafat sebelum zamannya. Ia bahkan mendirikan sekolah filsafat yang disebutnya sebagai ‘akademia.’
ide sebagai 'konsep' ideal
Plato membawa persoalan filsafat sebelumnya menuju sintesa yang lebih tinggi derajatnya, begitu yang dikemukakan oleh bung Hatta. Ia mendeskripsikan bagaimana segala sesuatu itu tetap atau kekal, juga memberi pengertian bagaimana segala sesuatu itu selalu berubah. Namun, berbeda dengan pemikiran pendahulunya, yaitu para filsuf alam yang lebih terfokus pada ‘materi’, Plato cenderung mengungkapkan sisi ‘konsep.’
Apa yang dimaksud dengan ‘konsep’? Bayangkan kamu sedang membawa selembar kertas kosong saat ini, kertas tersebut masih bersih tidak ada goresan sedikitpun, lalu gambarlah sesuatu di atas kertas tersebut. Apakah yang muncul dipikiranmu? Apakah itu gambar hewan? Manusia? Atau yang lainnya? Itulah tepatnya, yang disebut Plato sebagai ‘konsep.’
Konsep hadir mendahului bentuk materi. Kamu memikirkan sesuatu terlebih dahulu, sebelum menggambarnya pada secarik kertas. Menurut Plato, konsep tersebut, atau bisa disebut sebagai ‘ide’ merupakan gambaran ideal. Itulah kenapa konsep ataupun ide adalah hal yang terpenting.
Ketika kamu menyelesaikan gambarmu, misalnya itu adalah gambar seekor anjing, hasilnya pasti tidak akan seindah yang ada dalam ide mu sebelumnya. Disini Plato mengemukakan bahwa, sudah menjadi ‘sifat alami’ dari dunia inderawi, yaitu memberikan gambaran yang tidak tepat.
Selanjutnya, kamu menunjukkan gambar tersebut kepada temanmu. Karena itu hasil kerja kerasmu, kamu mungkin memberikan pendapat bahwa gambar tersebut adalah yang terbaik. Namun, temanmu menolak, menurutnya mata anjing itu terlalu besar dan jelek. Sekali lagi, segala sesuatu yang dicapai indera manusia selalu tidak tepat, berbeda-beda, atau bersifat subjektif.
Untuk mengatasi masalah tersebut, kalian mungkin harus pergi ke ‘dunia ide’ Plato, dan bersama-sama memikirkan mengenai ‘anjing ideal’ dan tidak usah menggambarkannya lagi.
Pembagian Dalam Dunia Ide
Sebelum membahas poin yang satu ini lebih jauh, penting untuk kamu catat bahwa Plato membedakan antara ‘dunia ide’ dan ‘dunia fisik’ secara jelas. Menurutnya, kedua dunia tersebut benar-benar ‘ada.’ Dunia ide bukanlah pendapat manusia, juga bukan sesuatu yang didapat manusia dari dunia inderawi, dunia ide Plato benar-benar berdiri sendiri.
Menurut Plato, sebelum manusia dilahirkan, jiwanya berada di dunia ide. Disana mereka, para jiwa, dapat melihat secara langsung konsep-kosep ideal. Ketika manusia dilahirkan, mereka berusaha meraih kembali ingatan-ingatan ketika jiwa berada di dunia ide. Ketika ingatan tersebut sudah tercapai, maka manusia akan menemukan kebebasannya, dan tidak lagi khwatir dengan dunia inderawi.
Plato membagi dunia ide-nya menjadi dua tingkatan, yang pertama adalah pengertian ideal, dan yang kedua adalah logika ideal matematis.
Pengertian ideal yang dimaksud Plato selaras dengan Socrates. Yaitu pengertian yang kekal tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Pengertian tersebut meliputi apa yang disebut baik, apa yang disebut buruk, apa yang disebut adil, dan lain sebagainya. Menurutnya, pengertian ideal dapat dicapai manusia dengan memanfaatkan akal yang menuntun mereka ke dunia ide. Tepat seperti apa yang dilakukan Socrates.
Sementara itu, ideal matematis menurut Plato tidak dapat dicapai manusia. Seperti apa yang sudah saya paparkan diatas, keterbatasan indera manusia membuat konsep ini tidak dapat terwujud dalam dunia inderawi. Sederhananya, tidak ada lingkaran ideal, ataupun logika matematis lainnya yang ada di dunia.
Menuju Pengetahuan Sejati
Segala sesuatu di dunia akan hancur, akan mati, Plato juga mempercayai hal tersebut. Namun, dalam hal ini Plato meletakkannya pada dunia inderawi, tidak dengan dunia ide. Pada titik ini, Plato mengakui bahwa ‘segala sesuatu berubah.’
Salah satu tujuan penting dari dunia ide menurut Plato adalah tercapainya pengetahuan yang sejati. Plato selalu percaya dengan apa yang dikatakan akal-nya, melebihi apa yang diterimanya melalui indera. Menurut Plato, akalnya tersebut akan menuntunnya menuju dunia ide, yaitu dunia asli dimana jiwa manusia berasal.
Jika boleh sedikit saya beri penjelasan, sebenarnya pengetahuan sejati yang dimaksud oleh Plato disini adalah sesuatu yang dapat diterima oleh manusia sepanjang zaman. Sesuatu yang kekal.
Kita dapat mengandaikan hal tersebut dengan sejarah misalnya, Majapahit memang telah hancur dan tidak lagi tersisa manusia-manusia yang hidup di sana.
Namun, kita mendapatkan gambaran kebesaran Majapahit saat itu melalui cerita-cerita yang terus dilestarikan oleh orang tua dan guru-guru kita. Cerita dan pengertian mengenai Majapahit ini barangkali terletak di dunia ide. Karena, meskipun kerajaan tersebut telah hancur, kebesarannya masih dapat kita ketahui sampai saat ini.
Namun, Plato juga mengemukakan pendapat yang lebih ke arah religius, bahwa jiwa-jiwa manusia sebenarnya menginginkan kembali ke dunia ide, dunia tak tampak yang penuh kesempurnaan. Maka, pengetahuan sejati Plato juga mengarah pada kembalinya manusia ke wujudnya yang paling sempurna, yaitu ruh.
Kaitan dengan filsafat bahasa
Menarik untuk diperhatikan bahwa Plato juga menyematkan dunia ide nya dalam kajian bahasa. Menurutnya, bahasa hanyalah sekedar bunyi-bunyi dan simbol-simbol. Bunyi ataupun simbol tersebut, menurut Plato, selalu mengarah pada sesuatu di baliknya. Menurutnya, manusia dapat saling memahami melalui bahasa karena mereka sama-sama mempunyai bekal dari ‘dunia ide’ sejak mereka dilahirkan.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert