
KS.id – Sejenak menengok perjalanan umat manusia membuat saya sedikit belajar tentang filsafat, Sesuatu yang awalnya saya kira begitu rumit dan membingungkan. Belajar filsafat berarti melibatkan diri kedalam “arus pemikiran” di sepanjang sejarah manusia. Memahami secara runtut bagaimana dari masa ke masa manusia telah berkembang. Dalam arus tersebut, kita akan mengetahui bahwa kebenaran itu tumbuh dan tumbang. Hidup, dan kemudian habis tergerus zaman. Manusia menjadi mahluk yang aktif berpikir dan eksis. Itulah filsafat, sebuah tata cara olah nalar yang dinamis.
Sejarah telah membuktikan bahwa manusia telah berubah, dari sekedar berburu dan meramu, menjadi kelompok-kelompok yang menetap. Domestifikasi kemudian menjadikan peradaban manusia semakin kompleks. Populasi meningkat drastis, dan berbagai lembaga dibentuk dalam kelompok-kelompok manusia. Filsafat tidak begitu saja hadir saat itu, melainkan melalui sebuah proses kritis yang merevolusi cara berpikir.
Semenjak berubahnya prioritas manusia dari sekedar mencari makan untuk bertahan hidup, menjadi pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan sekunder, muncul lah keinginan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Pada awalnya, keinginan tersebut selalu dikaitkan dengan kematian. Sesuatu yang tidak mampu dijelaskan dan membawa kekhawatiran.
Manusia harus tunduk kepada kekuatan dewa-dewi, begitulah kehidupan yang baik saat itu, hingga kematian menjemput. Manusia tidak memiliki hak atas jalannya kehidupan. Mereka harus terus berharap agar dewa-dewi merasa senang dan memberikan keberkahan.
Namun, penjelasan kehidupan yang seperti itulah kiranya yang ditolak oleh filsafat. Filsafat berkembang pada masa yunani kuno melalui rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu itu kemudian memunculkan pertanyaan. Maka dari itu, pada mulanya, berfilsafat hanyalah pengajuan pertanyaan.
Orang-orang di yunani kuno bertanya tentang dunia, bertanya tentang masyarakat, bertanya tentang negara. Pertanyaan itu kemudian menuntun kepada pencarian sumber-sumber baru selain agama dan kepercayaan. Menuntut mereka untuk keluar dari ikatan tradisi. Sebuah upaya untuk membebaskan nalar berpikir.
Namun, penjelasan kehidupan yang seperti itulah kiranya yang ditolak oleh filsafat. Filsafat berkembang pada masa yunani kuno melalui rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu itu kemudian memunculkan pertanyaan. Maka dari itu, pada mulanya, berfilsafat hanyalah pengajuan pertanyaan.
Orang-orang di yunani kuno bertanya tentang dunia, bertanya tentang masyarakat, bertanya tentang negara. Pertanyaan itu kemudian menuntun kepada pencarian sumber-sumber baru selain agama dan kepercayaan. Menuntut mereka untuk keluar dari ikatan tradisi. Sebuah upaya untuk membebaskan nalar berpikir.
Dari sana kemudian muncul kekuatan baru dari umat manusia, yaitu akal yang mampu memberi penjelasan secara rasional. Begitulah kiranya “ber-filsafat” jika kita perhatikan secara historis dan runtut.
Banyaknya kesalahpahaman di tengah masyarakat saat ini tentang filsafat merupakan hal yang cukup menyedihkan. Filsafat cenderung dianggap sebagai kebebasan nalar yang arogan, bukannya kritis. Filsafat juga selalu ditabrakkan dengan dogma agama yang berlaku.
Padahal, bukan itu yang seharusnya kita tangkap dari filsafat, sebagaimana kisah kemunculan awal filsafat sekitar 600 SM yang memberi kritik atas penjelasan mitologis yunani.
Seorang filsuf meragukan keberadaan dewa-dewi yunani yang cenderung menyerupai manusia. Dari pernyataan tersebut, dia beralasan bahwa apabila seekor kerbau berpikir mengenai dewa-dewi, maka hasilnya mungkin adalah dewa-dewi yang menyerupai kerbau pula.
Seorang filsuf meragukan keberadaan dewa-dewi yunani yang cenderung menyerupai manusia. Dari pernyataan tersebut, dia beralasan bahwa apabila seekor kerbau berpikir mengenai dewa-dewi, maka hasilnya mungkin adalah dewa-dewi yang menyerupai kerbau pula.
Maka, dewa-dewi yang ada saat itu, dianggapnya hanya sebatas imaji manusia. Bentuk ideal dari apa yang tidak dapat dijangkau manusia. Penciptaan “narasi” peristiwa-peristiwa besar dengan kreatifitas, yang memunculkan gambaran dewa-dewi.
Dari kisah tersebut dapat kita ambil bahwa berfilsafat bukan sekedar pertentangan dengan apa yang ada di tengah masyarakat. Filsafat mampu digunakan untuk memberikan kritik atas “asumsi dasar” yang jarang terpikirkan.
Dari kisah tersebut dapat kita ambil bahwa berfilsafat bukan sekedar pertentangan dengan apa yang ada di tengah masyarakat. Filsafat mampu digunakan untuk memberikan kritik atas “asumsi dasar” yang jarang terpikirkan.
Karena filsafat bukan hanya kebebasan bernalar yang cenderung menghancurkan konsep-konsep yang sudah ada. Namun, merupakan sebuah sistematika penalaran yang sealamiah mungkin.
Sedikit mengutip perkataan dari Jostein Gaarder, Penulis novel “Dunia Sophie” : Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang filsuf yang baik hanyalah rasa ingin tahu!
Sumber
- Gaarder, J. (2013). Dunia Sophie. Bandung: PT Mizan Pustaka.
- Perry, M. (2012). PERADABAN BARAT : Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan. Bantul: KREASI WACANA.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert