
KS.id – Linguistik adalah sebuah ilmu yang mengkaji bahasa secara objektif. Melalui linguistik, bahasa telah berhasil dipeta-petakan kedalam beberapa konsep yang membentuk sebuah sistem. Sebuah revolusi yang dicetuskan oleh Ferdinand De Saussure.
Bahkan ilmu linguistik dianggap sebagai ilmu tentang manusia yang paling maju karena keberhasilannya mengkaji fenomena berbahasa secara objektif. Sebelumnya saya telah membahas sedikit-sedikit mengenai linguistik Saussure ini. Kali ini lanjutannya yang akan saya bahas adalah Sinkroni dan Diakroni.
Pembahasan
Pengertian
Sinkroni adalah sebuah pemaknaan bahasa yang tidak memandang perjalanan waktu. Asalnya dari kata Yunani “Khronos” dan ditambahkan dengan imbuhan “syn”, Khronos artinya waktu dan syn artinya bersama. Jika keduanya digabungkan, kurang-lebih artinya adalah “bersama waktu.”
Apa yang dimaksudkan dengan bersama waktu? Untuk mengkaji bahasa, diperlukan sebuah kesesuaian dengan waktu. Apa yang ada hari ini, saat ini, sekarang, memiliki pengaruh dalam sistem bahasa.
Mengkaji bahasa secara sinkroni berarti menafikan perubahan-perubahan, pembentuk, atau asal-usul sebuah bahasa. Bahasa dianggap sebuah makna yang diterima hari ini, sekarang, terlepas dari maknanya di masa lalu atau masa depan. Sinkroni adalah peninjauan yang melepaskan diri dari pengaruh perjalanan waktu, atau ahistoris.
Sementara itu, diakroni adalah pengkajian bahasa yang mementingkan perjalanan waktu. Imbuhan “dia-” pada kata “khronos” memiliki arti menelusuri waktu. Artinya, sebuah makna dalam bahasa dikaji berdasarkan perjalanan terbentuknya, perubahannya―atau jika menyangkut bahasa lisan―perubahan cara pengucapannya.
Faktor terpenting dalam kajian diakroni adalah perjalanan-waktu, oleh karenanya peninjauan bahasa yang satu ini memiliki sifat historis.
Sejauh bahasa kita pahami sebagai sebuah sistem, keberagaman manusia yang menggunakan bahasa tersebut akan membuat sistem terus diperbaharui dan mengalami pergeseran makna.
Sinkroni dan Diakroni
Bahasa dapat dipelajari menurut dua sudut pandang itu: sinkroni dan diakroni. Namun, menurut Saussure, linguistik harus memperhatikan sinkroni sebelum diakroni. Ini berkaitan dengan dipahaminya bahasa sebagai sebuah sistem.
Seperti yang kita tahu, sebuah sistem selalu terdiri dari beberapa komponen pembentuk yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini, tujuan bahasa adalah menyampaikan pesan. Sementara itu, komponen-komponen pembentuk bahasa, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, adalah Signifiant, Signifie, Langage, Parole dan Langue.
Sebuah sistem agar bekerja dengan baik berarti harus menyesuaikan dengan kondisi di sekitarnya. Artinya, kondisi penggunaan “bahasa sekarang” adalah yang terpenting untuk menyampaikan pesan. Itulah kenapa menurut Saussure peninjauan bahasa secara sinkroni harus didahulukan.
Pendapat Saussure ini bertentangan dengan ahli-ahli bahasa abad ke-19 yang hampir semua menggunakan peninjauan diakronis terhadap bahasa; mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu, etimologi, perubahan fonetis, dan lain sebagainya.
Namun, setelah terungkap bahwa bahasa adalah sistem, maka linguistik harus mempelajari sistem bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini. Bukannya menelusuri ke belakang.
Sumber
Bartens, K. (2006). Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert