-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Memahami Linguistik Saussure: Signifiant dan Signifie

9 Feb 2019
Memahami Linguistik Saussure: Signifiant dan Signifie

KS.id – Ferdinand De Saussure adalah seorang tokoh yang menjadi termasyhur berkat teorinya mengenai linguistik modern.  Saussure adalah orang pertama yang membebaskan urusan kebahasaan dari urusan-urusan luar-bahasa.  Ia memberi sumbangsih begitu besar terhadap ilmu bahasa dengan menetapkan bahasa sebagai bentuk, bukannya substansi.

Bahasa yang awalnya dianggap sebagai perantara yang mampu menjelaskan realitas, diubah menjadi bentuk yang tunduk pada sebuah aturan.

Aturan tersebut menurut Saussure hadir secara tak-sadar dan begitu saja.  Ada beberapa poin penting mengenai lingustik modern milik Saussure ini.

Saya kali ini akan membahas mengenai Signifiant dan Signifie, sebuah pondasi awal untuk memahami linguistik Saussure.  Nantinya akan ada beberapa artikel yang menyusul untuk melengkapi artikel kali ini.  Langsung saja, begini pembahasannya...

Pembahasan

Signifiant


Bahasa sebagai sebuah bentuk menurut Saussure dapat dikenali melalui pemetaan-nya yang pertama yaitu signifiant, atau le signifiant dalam bahasa Perancis.  Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah Penanda.

Yang dimaksud sebagai penanda adalah bahasa selalu mengacu pada sesuatu yang lain.  Bahasa hanyalah sebatas simbol yang ingin menyampaikan pesan, atau makna.  Namun, menurut Saussure makna ini tidak ada dalam dunia realitas, melainkan sebuah dunia mental yang terwujud sebagai “Konsep.”

Dalam pandangan polpuler misalnya, kata “Pohon” dianggap menunjuk kepada sebuah pohon yang ada di dunia nyata.  Padahal kata tersebut sebenarnya merujuk pada sebuah konsep yang ditandai sebagai “Pohon”, pembahasan lengkapnya akan ada di poin berikutnya.

Dengan dikenalkannya bahasa sebagai “tanda” oleh Saussure, berarti ilmu kebahasaan telah menemukan suatu objek yang pasti.  Yaitu bahasa sebagai tanda.  Bahasa tidak lagi ditafsirkan secara historis, namun sebagai sebuah tanda yang merujuk kepada hal yang lain.  Begitulah permulaan ilmu linguistik modern.

Signifie


Selain penanda, tentu saja konsep yang tidak kalah penting, yang juga dikemukakan oleh Saussure, adalah Yang ditandakan.  Sebuah konsep yang dinamakan Signifie atau dalam bahasa perancis disebut sebagai le signifie.

Pembedaan antara “penanda” dengan “Yang ditandakan” adalah inti pandangan Saussure tentang bahasa.  Keduanya menurut Saussure tidak dapat dipisahkan.  Ia menganalogikan kedua hal tersebut bagaikan dua sisi dari sehelai kertas.

Sebuah buku berjudul: “Filsafat Barat Kontemporer: Perancis” yang ditulis oleh K. Bartens memberikan sedikit gambaran yang mudah untuk dipahami.  Begini kutipan dari buku tersebut:

Suatu kata tidak pernah merupakan bunyi saja atau―sejauh menyangkut bahasa tertulis―tidak pernah merupakan coretan saja.   Suatu kata adalah bunyi atau coretan, ditambah suatu makna.  Suatu kesatuan yang tak terpisahkan.

Namun, seperti apa yang telah saya paparkan diatas, rujukan dari “tanda” bukanlah kondisi realitas.  Tanda selalu mengacu kepada sebuah konsep, gambaran mental, atau pikiran.  Sebuah tanda tanpa adanya konsep dalam pikiran manusia tidak akan pernah bisa menyampaikan “makna.”

Kesimpulan


Signifiant dan Signifie atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “penanda” dan “yang ditandakan” adalah kajian ilmu linguistik modern yang digagas oleh Ferdinand De Saussure.

Penanda adalah objek material dalam kajian linguistik, yaitu apa yang dibunyikan dan didengar, atau apa yang ditulis dan dibaca.

Sementara itu, “yang ditandakan” adalah aspek mental dalam kajian bahasa, yaitu apa yang ada di dalam pikiran manusia setelah melihat penanda.

Sumber

Bartens, K. (2006). Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Share This :