
KS.id – Sebelumnya saya telah membahas Signifiant dan Signifie sebagai dasar pertama dalam ilmu linguistik. Sebuah perubahan mendasar yang menjadikan bahasa sebagai suatu objek kajian.
Sebelumnya juga saya sempat menjelaskan bahwa bahasa diatur oleh sebuah sistem tak-sadar yang mampu dipahami penggunanya. Nah, kali ini saya akan membahas: Apa sih yang dimaksud dengan sebuah sistem tak sadar?
Selain signifiant dan signifie, Ferdinand De Saussure juga menjabarkan unsur lain dari bahasa yaitu: Langage, Parole, dan Langue. Sedikit banyak ketiga unsur tersebut akan saya jabarkan dalam artikel kali ini. Begini Pembahasannya..
Manusia dalam menjalani kehidupannya tidak akan terlepas dari komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dapat terjadi ketika dua manusia atau lebih memiliki bahasa, sebagai sebuah medium. Bahasa disampaikan oleh manusia melalui bunyi atau suara, atau melalui tulisan. Keduanya disebut tanda-tanda verbal.
Keduanya, baik itu bahasa yang digunakan melalui bunyi maupun melalui tulisan disebut sebagai langage. Dengan kata lain, langage adalah sarana yang digunakan manusia untuk berbicara dan berkomunikasi dengan sesamanya.
Langage juga sebuah konsep yang membatasi dirinya pada kemampuan manusia untuk melakukan komunikasi dengan bahasa yang dimilikinya. Meskipun konsep ini dicetuskan oleh Saussure sendiri, namun konsep ini tidak banyak dikaji oleh ilmu linguistik.
Kalau “Fenomena bahasa” atau “Fenomena komunikasi” secara umum ditunjukkan dengan istilah langage, maka di dalamnya terkandung dua konsep lagi, yaitu Parole dan Langue. Keduanya akan dibahas pada bab selanjutnya.
Parole sebagai salah satu konsep turunan dari "fenomena komunikasi" mengarah pada keunikan tiap individu. Maksudnya adalah, meskipun bahasanya sama, tiap-tiap manusia punya cara pengucapan yang berbeda-beda misalnya.
Seperti halnya ketika kita menggunakan bahasa Indonesia dengan logat kedaerahan. Bahasa Indonesia yang kita gunakan masih sama dengan bahasa yang dipakai pada umumnya. Namun, cara kita mengucapkannya merupakan turunan khas yang hanya dimiliki kita sendiri sebagai seorang individu.
Selain itu, yang termasuk dalam konsep parole adalah kekhasan individu untuk memilih diksi (kata), ataupun menyusun kalimat ketika berkomunikasi.
Maksud yang disampaikan oleh beberapa orang mungkin sama. Bedanya mereka memiliki pemilihan-kata yang disusun secara beragam. Akhirnya, dimungkinkan sebuah keberagaman bahasa yang begitu banyak untuk mengkaji konsep yang satu ini.
Akibat sifatnya yang lebih individualistik, konsep ini juga kurang diperhitakan oleh Saussure. Ia lebih mengkaji sebuah konsep yang sifatnya universal bagi ilmu kebahasaan. Konsep tersebut adalah "Langue" yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
Akhirnya kita pada bab terpenting dari pembahasan kali ini, yaitu mengenai Langue. Sederhananya Langue adalah sebuah aturan tak tampak yang mengkonstitusi sebuah sistem bahasa. Aturan ini dipahami oleh pengguna bahasa secara tak sadar.
Sebelum menemukan konsep yang satu ini, Saussure awalnya kagum dengan teori Emil Durkheim mengenai “Fakta Sosial.” Ia membayangkan bahwa teori tersebut juga berlaku pada sistem bahasa. Teori fakta sosial intinya adalah bagaimana masyarakat diatur oleh sesuatu diluar dirinya.
Fakta sosial dapat dipahami sebagai norma yang hadir bahkan sebelum individu dilahirkan.
Selain signifiant dan signifie, Ferdinand De Saussure juga menjabarkan unsur lain dari bahasa yaitu: Langage, Parole, dan Langue. Sedikit banyak ketiga unsur tersebut akan saya jabarkan dalam artikel kali ini. Begini Pembahasannya..
Pembahasan
Langage
Manusia dalam menjalani kehidupannya tidak akan terlepas dari komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dapat terjadi ketika dua manusia atau lebih memiliki bahasa, sebagai sebuah medium. Bahasa disampaikan oleh manusia melalui bunyi atau suara, atau melalui tulisan. Keduanya disebut tanda-tanda verbal.
Keduanya, baik itu bahasa yang digunakan melalui bunyi maupun melalui tulisan disebut sebagai langage. Dengan kata lain, langage adalah sarana yang digunakan manusia untuk berbicara dan berkomunikasi dengan sesamanya.
Langage juga sebuah konsep yang membatasi dirinya pada kemampuan manusia untuk melakukan komunikasi dengan bahasa yang dimilikinya. Meskipun konsep ini dicetuskan oleh Saussure sendiri, namun konsep ini tidak banyak dikaji oleh ilmu linguistik.
Kalau “Fenomena bahasa” atau “Fenomena komunikasi” secara umum ditunjukkan dengan istilah langage, maka di dalamnya terkandung dua konsep lagi, yaitu Parole dan Langue. Keduanya akan dibahas pada bab selanjutnya.
Parole
Parole sebagai salah satu konsep turunan dari "fenomena komunikasi" mengarah pada keunikan tiap individu. Maksudnya adalah, meskipun bahasanya sama, tiap-tiap manusia punya cara pengucapan yang berbeda-beda misalnya.
Seperti halnya ketika kita menggunakan bahasa Indonesia dengan logat kedaerahan. Bahasa Indonesia yang kita gunakan masih sama dengan bahasa yang dipakai pada umumnya. Namun, cara kita mengucapkannya merupakan turunan khas yang hanya dimiliki kita sendiri sebagai seorang individu.
Selain itu, yang termasuk dalam konsep parole adalah kekhasan individu untuk memilih diksi (kata), ataupun menyusun kalimat ketika berkomunikasi.
Maksud yang disampaikan oleh beberapa orang mungkin sama. Bedanya mereka memiliki pemilihan-kata yang disusun secara beragam. Akhirnya, dimungkinkan sebuah keberagaman bahasa yang begitu banyak untuk mengkaji konsep yang satu ini.
Akibat sifatnya yang lebih individualistik, konsep ini juga kurang diperhitakan oleh Saussure. Ia lebih mengkaji sebuah konsep yang sifatnya universal bagi ilmu kebahasaan. Konsep tersebut adalah "Langue" yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
Langue
Akhirnya kita pada bab terpenting dari pembahasan kali ini, yaitu mengenai Langue. Sederhananya Langue adalah sebuah aturan tak tampak yang mengkonstitusi sebuah sistem bahasa. Aturan ini dipahami oleh pengguna bahasa secara tak sadar.
Sebelum menemukan konsep yang satu ini, Saussure awalnya kagum dengan teori Emil Durkheim mengenai “Fakta Sosial.” Ia membayangkan bahwa teori tersebut juga berlaku pada sistem bahasa. Teori fakta sosial intinya adalah bagaimana masyarakat diatur oleh sesuatu diluar dirinya.
Fakta sosial dapat dipahami sebagai norma yang hadir bahkan sebelum individu dilahirkan.
Sebuah aturan-tak-tampak yang mendarah-daging di masyarakat.
Norma tersebut mengatur bagaimana sebuah masyarakat yang baik dapat tercipta, melalui tata tingkah laku, sikap, hingga kegiatan masyarakat. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya norma berlaku, namun norma diterima dan dipercaya oleh masyarakat. Begitupun dengan konsep Langue yang dicetuskan oleh Saussure.
Bahasa telah diatur atau dikonstitusi dari luar. Aturan tersebut tidak sepenuhnya disadari oleh penggunanya. Namun, justru aturan tersebutlah yang memungkinkan bahasa dapat dimaknai oleh manusia sebagai penggunanya.
Aturan yang paling utama dalam bahasa adalah adanya “perbedaan-perbedaan.” Karena perbedaan tersebut akhirnya manusia dapat mengerti arti suatu bahasa. Seperti contoh dibawah ini misalnya:
Dalam bahasa Indonesia umpamanya terdapat kata “lupa” disamping kata “rupa.”
Aturan yang paling utama dalam bahasa adalah adanya “perbedaan-perbedaan.” Karena perbedaan tersebut akhirnya manusia dapat mengerti arti suatu bahasa. Seperti contoh dibawah ini misalnya:
Dalam bahasa Indonesia umpamanya terdapat kata “lupa” disamping kata “rupa.”
Hal itu dimungkinkan, karena dalam sistem ini /l/ (el) berbeda dengan /r/ (er) dan dengan semua fonem lain dari bahasa Indonesia. Namun, lain halnya dengan bahasa Jepang yang tidak membedakan antara /l/ (el) dengan /r/ (er).
Jika terdapat kata “lupa” dan “rupa” dalam bahasa Jepang, kemungkinan besar maknanya akan sama. Makna kedua kata tersebut baru bisa dibedakan ketika ada perbedaan, meskipun itu hanya sekedar huruf. Itulah kenapa menurut Saussure bahasa adalah sebuah sistem yang terdiri dari perbedaan-perbedaan.
Mengutip salah satu kalimat Saussure:
Jika terdapat kata “lupa” dan “rupa” dalam bahasa Jepang, kemungkinan besar maknanya akan sama. Makna kedua kata tersebut baru bisa dibedakan ketika ada perbedaan, meskipun itu hanya sekedar huruf. Itulah kenapa menurut Saussure bahasa adalah sebuah sistem yang terdiri dari perbedaan-perbedaan.
Mengutip salah satu kalimat Saussure:
"Dans la langue il ya seulement des differences."
(Dalam langue hanya terdapat perbedaan-perbedaan saja.)
Sumber
- Bartens, K. (2006). Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
- Al-Fayyadl, M. (2005). DERRIDA. Yogyakarta: LKiS.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert