-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Lingkungan Hidup: Sejarah Perubahan Paradigma Manusia

6 Feb 2019
Lingkungan Hidup: Sejarah Perubahan Paradigma Manusia

KS.id – Manusia dalam menjalani kehidupannya―mau tidak mau―pasti akan melakukan interaksi dengan lingkungannya.  Dalam hal ini lingkungan dianggap sebagai “alam tempat tinggal."  Manusia menetap di lingkungan tersebut, melakukan berbagai aktivitas, membangun peradaban, dan memiliki kehidupan. 

Kehidupan Awal


Manusia melihat lingkungan dengan kekaguman awalnya, berusaha menjelaskannya sebagai sebuah kekuatan yang tak kasat mata.  Begitulah manusia di hari-hari awal terbentuknya alam semesta.  Kekaguman itu membuat manusia tunduk kepada alam sekitarnya. 

Berbagai aktifitas sepenuhnya digantungkan kepada alam.  Kita dapat melihat bentuk ketergantungan tersebut dari berbagai peradaban yang muncul di sepanjang bantaran sungai.  Air menjadi sumber kehidupan manusia saat itu, perannya sangat sentral sebagai penopang peradaban awal.

Alam yang telah memenuhi berbagai kehidupan manusia saat itu kemudian diberi “nilai” oleh masyarakat, dianggap sebagai sesuatu yang “hidup”, serta dihormati.  Interaksi antara manusia dengan alam dianggap sakral, sebuah aktivitas yang memang dikhususkan dan dianggap penting bagi keberlangsungan hidup manusia diatas muka bumi. 

Meskipun interaksi tersebut masih kental dengan penjelasan-penjelasan mistis-mitologis, kegiatan atas dasar kepercayaan, namun harus diakui hubungan ini menciptakan kondisi kelestarian di lingkungannya.  Membentuk manusia-manusia yang arif terhadap lingkungan sekitarnya.

Alam Sebagai Suatu Sistem Mekanis Tanpa Ruh


Peradaban kemudian berubah ketika manusia telah menemukan “alat” untuk menaklukkan alam, mengolah segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.  Alat-alat tersebut pada awalnya berupa perkakas untuk berburu dan bercocok tanam, hingga kemudian menjadi mesin-mesin yang memungkinkan pemanfaatan alam dilakukan secara besar-besaran

Manusia mulai mengukuhkan perannya sebagai penguasa.  Membentuk suatu paradigma bahwa alam telah disediakan untuk dimanfaatkan.  Sebuah cara berpikir yang memposisikan lingkungan sebagai biota pasif, sebuah “sumber daya alam."

Dalam perkembangannya, sikap eksploitatif manusia semakin menjadi-jadi, perusakan alam tanpa ada perbaikan yang memadai dilakukan dimana-mana.  Manusia telah tumbuh menjadi musuh alam

Meningkatnya populasi umat manusia juga turut berperan dalam mengintensifikasi perusakan-perusakan alam.  Sebuah paradigma yang antroposentrisme, menganggap manusia sebagai pusat segala sesuatu di dunia.

Usaha Untuk Merubah Antroposentrisme


Pada abad ke-21 ini perhatian terhadap lingkungan kembali menjadi topik utama ditengah masyarakat.  Krisis lingkungan membawa manusia untuk memikirkan kembali apa yang telah dilakukannya.  Muncul-lah kemudian gagasan mengenai “lingkungan hidup”, sebuah pemahaman yang tidak hanya menganggap lingkungan sebagai biota pasif, melainkan sebuah bagian penting dari kehidupan. 

Manusia dan lingkungan yang ada disekitarnya dianggap sebagai satu sistem kehidupan yang utuh, saling terkait satu sama lain

Ilmu pengetahuan tidak boleh lagi bersikap merusak alam, namun harus memiliki sebuah kebijaksanaan.  Science and wisdom, sebuah paradigma sistemis-organis, saling keterkaitan antara berbagai kehidupan yang kemudian menjadikan lingkungan sebagai “oikos”, tempat tinggal bagi makhluk hidup. 

Karena saling keterkaitan itulah, sejatinya lingkungan adalah “kehidupan” itu sendiri, yang memungkinkan kehidupan-kehidupan lain dapat berlangsung didalamnya.  bukan menungganginya.

Sumber


Keraf, D. A. (2014). Filsafat Lingkungan Hidup. Yogyakarta: PT Kanisius.
Share This :