-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Kebudayaan Hellenistik: Catatan Sejarah Globalisasi Kuno

5 Feb 2019
Kebudayaan Hellenistik: Catatan Sejarah Globalisasi Kuno

KS.id – Menulusuri peradaban barat adalah 'aktifitas sejarawan' yang lumayan menarik bagi saya hehe.. Jauh diluar sana–dalam teks-teks sejarah–saya menemukan beragam hal baru.  Dan kali ini yang akan saya bagi kepada para pembaca adalah hellenistik.

Sebuah peradaban pernah muncul dan menjadi besar di wilayah barat sana.  Peradaban itu adalah Yunani kuno.  Hellenistik merupakan bagian dari 'fenomena' Yunani, yang saat itu telah mengenal rasio, demokrasi, dan 'sedikit' pengetahuan objektif.  Jadi begini...

Pembahasan


Kebudayaan hellenistik adalah sebuah hasil percampuran antara kebudayaan asli yunani dengan kebudayaan di luar yunani. 

Kebudayaan baru ini menghancurkan pemikiran lokal dari masing-masing kebudayaan (Yunani dan luar-yunani) menjadi sebuah pemikiran kosmopolitanisme.  Di masa ini kebudayaan Yunani mencapai titik baru yang memungkinkannya tersebar ke berbagai daerah. 

Berbagai bidang saat itu menerima dampak dari perubahan kebudayaan ini, diantaranya: kepercayaan, arsitektur, seni, serta filsafat.  Dibawah kepemimpinan Raja Alexander Agung dari Macedonia, pertemuan budaya tersebut mulanya terjadi dan mebentuk suatu masyarakat yang benar-benar baru.

Hellenistik berasal dari kata ‘hellas’ (yunani) yang memiliki makna: seperti yunani.  Sebutan ini diberikan kepada kebudayaan luar yunani yang ter-yunani-kan pasca penaklukkan oleh Macedonia. 

Wilayah Macedonia terbentang dari barat hingga timur.  Meliputi Asia Minor, Persia, Mesir, Yunani, hingga India.  Sebuah kemaharajaan yang mencapai tingkatan baru, melampaui polis-polis, kota-kota. 

Macedonia mempertemukan berbagai kebudayaan dari timur hingga barat menjadi satujika tidak berlebihan, saya katakansebuah 'Globalisasi' kuno.

Selain itu, raja Macedonia saat itu, Alexander Agung, merupakan seorang pengagum epos-epos Homeris dari Yunani.  Penghargaannya terhadap kebudayaan Yunani begitu tinggi berkat gurunya, Aristoteles. 

Alexander juga menghargai beragam budaya lokal dari wilayah taklukkannya.  Dia kemudian mengatur tumbuhnya percampuran kebudayaan saat itu, terutama antara barat dengan timur.  Ia memerintahkan pasukannya untuk menikahi wanita Persia, serta membangun kota-kota bergaya Yunani di Asia.

Raja Alexander menciptakan sebuah pemahaman baru tentang dunia pada saat itu.  Manusia mulai berpikir sebagai suatu kesatuan, bukan lagi polis atau kota, namun sebagai umat manusia yang menempati bumi.  Pemikiran tersebut kemudian melahirkan sebuah aliran filsafat baru yang disebut Stoisisme

Orang-orang dengan kebudayaan asli Yunani mulai mengenal kepercayaan religius dari Timur Dekat, Mesir, dan Persia.  Sementara sebaliknya, kebudayaan, filsafat, dan kesenian Yunani telah keluar dari keterbatasan polis dan memeasuki wilayah-wilayah lain.

Semenjak kematian Alexander Agung yang telah memimpin selama tiga belas tahun, proses meresapnya kebudayaan Yunani di wilayah kekuasaan Macedonia semakin gencar dilakukan.  Hal tersebut menjadi tonggak dimulainya zaman hellenistik hingga penyerangan Romawi menghabisi pengaruh Macedonia.

Pasca kematian Alexander Agung, Macedonia terpecah menjadi tiga, Ptolemies di Mesir, Seleucids di Asia, dan Antigonids di Macedonia akibat perang saudara.

Salah satu kota yang menjadi pusat peradaban saat itu adalah Alexandria yang merupakan ibukota Ptolemies di Mesir.   Alexandria merupakan sebuah penggambaran kemegahan zaman helenistik.  Disana kebudayaan dan ilmu pengetahuan mencapai tingkatan tertinggi. 

Data-data dari seluruh wilayah Macedonia digunakan untuk melakukan kegiatan ilmiah yang mengembangkan ilmu pengetahuan, melebihi apa yang pernah dilakukan orang-orang Yunani.  Diantaranya adalah: botani, zoologi, astronomi, kedokteran, dan matematika

Salah seorang ilmuwan berpengaruh yang berasal dari Alexandria adalah Archimedes dengan teori-teori matematikanya.  Pun demikian dengan sejarah yang tidak lagi menuliskan tentang kota-kota melainkan sebuah kemaharajaan dunia

Namun, zaman helenistik berakhir dengan jatuhnya Alexandria ke tangan Romawi.  Meski begitu, beragam kebudayaan Yunani masih berlanjut dan dibawa ke Roma, Italia, oleh pasukan-pasukan romawi.

Kesimpulan 

  • Kebudayaan hellenistik merupakan sebuah fase baru dalam kesejarahan umat manusia, dimana terlahir sebuah kekuasaan yang membentang dari timur higga barat.  Kekuasaan itu membawa kebudayaan Yunani keluar dari polis-polis.  Menggeser pemahaman manusia menjadi suatu bagian dari komunitas dunia, daripada sekedar warga kota.  Sebuah wujud Globalisasi Kuno.  
  • Polis kemudian menjadi bentuk pemerintahan yang ketinggalan zaman dan diganti dengan sebuah kemaharajaan.

Sumber

  1. Perry, M. (2012). PERADABAN BARAT : Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan. Bantul: KREASI WACANA.
  2. Gaarder, J. (2013). Dunia Sophie. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Share This :