
KS.id – Mendengar kata filsafat sebagian orang mungkin sudah enggan untuk menelisik lebih jauh. Filsafat identik dengan hal-hal yang njelimet dan sukar untuk dipahami. Namun, benarkah filsafat itu sedemikian sulitnya?
Sebuah novel karangan Jostein Gaarder yang berjudul Dunia Sophie setidaknya berusaha membuat filsafat layaknya pisang goreng hangat yang disajikan di atas meja. Ditengah musim penghujan yang dingin, novel tersebut akan menghangatkan pikiran dengan pelajaran filsafat. Tulisan lincah yang dibarengi dengan penjabaran yang begitu detail membuat novel ini menjadi buku utama yang saya sarankan untuk dibaca sebelum kamu mati.
Saya bukan seorang kritikus novel, melainkan seorang penulis amatiran yang berusaha mencari pengalaman menulis. Setidaknya, saya dapat sedikit bangga karena menulis dengan secuil hati nurani. Ngehehehe..
Kenapa Dunia Sophie saya sarankan untuk dibaca? Karena novel ini akan membawa kamu menjadi seorang time traveler. Penyajian filsafat yang ada di dalamnya dilakukan selaras dengan berjalannya waktu. Novel yang satu ini akan membuatmu merasakan pergolakan pemikiran dari masa Yunani Kuno hingga abad ke-20.
Lucunya, novel ini dikemas dalam cerita fiksi naratif. Kamu akan diajak untuk menemani petualangan Sophie, seorang gadis kecil yang secara mendadak jatuh cinta kepada filsafat. Seperti yang saya bilang sebelumnya, novel dunia sophie adalah hidangan pisang goreng hangat di tengah musim hujan yang dingin!
Kenapa kita begitu takut terhadap filsafat? Ya, kita sebagai anak-anak Indonesia memang tidak begitu mengenalnya. Filsafat adalah produk impor. Buah pemikiran manusia-manusia di luar Indonesia yang mana banyak membentuk peradaban manusia.
Tapi haruskah kita merasa takut dan menjaga jarak terhadap filsafat? Kamu akan menemukan jawabannya dalam buku setebal 800 halaman karya Jostein Gaarder tersebut.
Apa yang Saya Lakukan Disini?
Sebagai seorang pembaca yang begitu mengagumi karya Jostein Gaarder yang satu ini, saya berniat untuk membagikan pendapatan yang telah saya terima.
Artikel ini berjudul Filsafat Sophie, itu adalah sebutan yang saya buat untuk penjelasan-penjelasan empuk yang mudah dicerna dalam buku Dunia Sophie. Sosok sophie bagi saya adalah penghasil pengetahuan yang cerdik. Begitu banyak cerita yang membuat simpul-simpul rumit dan tak-terselesaikan dalam urusan filsafat terurai begitu mudah di tangannya.
Pengantar ini nantinya akan berlanjut dengan beberapa artikel yang menjabarkan berbagai penjelasan filsafat yang saya terima dari sophie. Tentu saja artikel-artikel tersebut adalah buah tangan sendiri, dan seperti apa yang pernah saya tulis mengenai linguistik, merupakan hasil olah keragaman bahasa pribadi.
Apakah artikel-artikel tersebut mengarah pada spoiler? Sama sekali tidak, penjelasan yang saya buat tentu akan menjauhkan diri dari kisah perjalanan Sophie. Saya akan membuat teks tersebut menjadi milik saya sendiri, meskipun kamu sebagai pembaca mampu menikam saya dan memberi pemaknaan sendiri atas teks-teks tersebut―seperti apa yang dilakukan Derrida pada teks-teks filsafat modern.
Yang saya ambil dari cerita perjalanan Sophie hanyalah lompatan-lompatan indah penjelasan filsafat. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya hanyalah penggemar dan penulis amatir yang mencoba mengembangkan kembali penjelasan tersebut. Hingga akhirnya, saya akan mati tanpa sedikitpun meninggalkan jejak dalam kehidupan.
Kenapa Filsafat?
Saya rasa saya jatuh cinta pada hampir seluruh bagian buku Dunia Sophie Karya Jostein Gaarder versi penyaduran berbahasa Indonesia. Entahlah, memang sudah sewajarnya karena kualitas buku tersebut. Atau mungkin karena saya sendiri belum menciccipi versi asli teks tersebut dalam bahasa Norwegia.
Begitupun dengan pengantar yang diselipkan di halaman-halaman awal buku tersebut yang menjelaskan bagaimana filsafat cukup sukar diterima oleh masyarakat.
Dalam pengantar tersebut dipaparkan bahwa filsafat selalu saja dianggap sebagai verbalisme kosong. Permainan-permainan kata yang sekedarnya, kebetulan, dan tak mengarah pada apapun. Itulah kenapa filsafat seringkali diremehkan di tengah masyarakat. Filsafat juga selalu dikaitkan dengan kebebasan nalar yang liar dan arogan.
Namun, hakikatnya filsafat hanyalah sebuah gerak nalar yang wajar dan sealamiah mungkin. Ia bertanya pada apa saja yang memang belum pernah tersentuh oleh akal kebenarannya. Begitulah hakikatnya filsafat sebagai ilmu hakikat.
Filsafat menciptakan manusia-manusia dengan pemikiran kritis dan mandiri. Dengan beragam pertanyaan yang muncul, filsafat mampu mengasah kepekaan atas inti persoalan. Pertanyaan yang terus mengalir menciptakan sistematisasi nalar yang terus menyehatkan dirinya.
Seringkali, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi jawaban atas kekosongan ruh melalui jalan keingintahuan. Pemikiran abstrak filosofis akhirnya mampu menuntun pada dasar tersembunyi dari persoalan konkret.
Selain itu, pertanyaan yang dibiarkan mengalir sealamiah mungkin mampu digunakan untuk memberikan kritik atas asumsi dasar yang selama ini jarang diperdebatkan. Hal tersebut penting agar kita tidak terjebak dalam sudut pandang sempit atas kehidupan. Sekaligus menghapus sifat-sifat kolot tak berdasar yang selama ini lebih sering memunculkan nafsu untuk saling menguasai. Serta menghancurkan perasaan superior yang menindas kaum marjinal.
Filsafat akan memberimu keresahan hingga tingkatan yang paling mendasar atas suatu persoalan. Karena sistematika pencarian yang terus menerus, maka, kebenaran dalam filsafat hanyalah batas penalaran kita saat ini.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert