KS.id – Pemikiran selalu dianggap sebagai istilah sederhana dari filsafat, pendapat tersebut bisa salah untuk sekarang ini. Terlebih dengan diajukannya asumsi post-modernisme yang menolak dominasi akal dalam setiap perbuatan manusia. Benarkah manusia berpikir? Dalam candaan kaum posmodernis terdapat ungkapan “Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa.”
Namun yang pasti, kecondongan manusia untuk mengajukan pertanyaan akan selalu ada sampai kapanpun, mungkin itulah yang lebih tepat dikatakan sebagai filsafat. Sebelumnya, saya telah menulis tentang filsuf alam di Miletus. Sebuah perubahan radikal yang menggerakkan akal menusia untuk mencari lebih dalam daripada sekedar percaya mitos.
Satu kesimpulan yang dapat diambil dari para filsuf Miletus adalah adanya sebuah unsur (dzat) yang mampu membentuk seluruh alam. Dzat tersebut membawa kehidupan di dunia, juga mengakhiri sebagai bentuk terakhir kehidupan. Kepercayaan orang-orang Yunani saat itu adalah dzat tersebut selalu ada di dunia, dan membentuk berbagai kehidupan, seperti: manusia, hewan, tumbuhan, dan alam seisinya.
Jadi pertanyaan mengenai asal mula dunia seperti apa? Yang jelas bukan kekosongan dan ruang hampa, tapi keberadaan dzat-dzat awal yang disebutkan oleh filsuf Miletus, begitulah kepercayaan orang-orang Yunani.
Lalu bagaimana prosesnya sampai dzat awal tersebut membentuk seisi alam? Nah, jawaban tersebut tidak banyak diberikan, baru pada perkembangan berikutnya, yaitu kelompok filsuf yang muncul di wilayah elea yang banyak memikirkannya. Seperti judul artikel ini, saya akan menuliskan perkembangan pemikiran filsuf alam selanjutnya, yaitu mengenai proses pembentukan alam.
Menyoal Proses di Alam Semesta
Elea adalah salah satu wilayah koloni orang-orang Yunani yang berada di sebelah selatan semenanjung Italia. Ada beberapa orang filsuf yang mempertanyakan mengenai proses perubahan alam di Elea. Namun, yang paling berpengaruh diantara mereka adalah Parmenides.
Parmenides
Parmenides hidup kira-kira dari tahun 540 SM sampai 480 SM. Seperti yang telah saya paparkan di atas, pertanyaan yang diajukan filsuf ini berkisar pada proses-proses alam. Seperti kebanyakan orang Yunani lain, Permenides juga percaya bahwa dahulu kala, dunia pasti bermula dari satu dzat. Dzat tersebut selalu ada, dan membentuk seisi dunia di kemudian hari.
Permenides percaya bahwa segala sesuatu yang ada saat ini, pastilah selalu ada. Tidak ada yang muncul dari sebuah ketiadaan menurutnya. Itulah mengapa ia mengungkapkan bahwa “Tidak ada perubahan faktual di dunia.”
Menurut Parmenides susunan di dunia ini adalah Yang satu (dzat tunggal) yang selamanya tidak akan berubah. Ia mengemukakan logika berpikir bahwa apabila segala isi dunia ini satu, maka mustahil jika menjadi banyak.
Apa yang menjadi ‘banyak’ tidak lebih hanyalah prasangka manusia dari indera.
Itulah mengapa Permenides mengungkapkan bahwa jangan percaya pada indera yang mengungkapkan prasangka. Menurutnya, kebenaran sejati hanya didapatkan melalui akal.
Akal kita mampu mengatakan bahwa “tidak ada yang muncul dari ketiadaan” dan kemudian merumuskan bahwa ada Yang satu (dzat tunggal) sebagai pembentuk segala sesuatu di awal mula dunia.
Logikanya, jika segala sesuatu di dunia terbentuk dari Yang satu (dzat tunggal) maka segala sesuatu di dunia ini adalah dirinya. Segala sesuatu yang ada adalah Yang satu. Kebenaran itu tetap, dan takkan berubah, oleh karenanya tidak ada yang namanya proses ‘menjadi.’
Itulah mengapa Permenides mengungkapkan bahwa jangan percaya pada indera yang mengungkapkan prasangka. Menurutnya, kebenaran sejati hanya didapatkan melalui akal.
Akal kita mampu mengatakan bahwa “tidak ada yang muncul dari ketiadaan” dan kemudian merumuskan bahwa ada Yang satu (dzat tunggal) sebagai pembentuk segala sesuatu di awal mula dunia.
Logikanya, jika segala sesuatu di dunia terbentuk dari Yang satu (dzat tunggal) maka segala sesuatu di dunia ini adalah dirinya. Segala sesuatu yang ada adalah Yang satu. Kebenaran itu tetap, dan takkan berubah, oleh karenanya tidak ada yang namanya proses ‘menjadi.’
Yang satu (dzat tunggal) tidak pernah berubah ‘menjadi’ sesuatu yang lain. Ia tetap menjadi dirinya, tunggal, apa yang tampak oleh indera kita hanyalah prasangka. Itulah setidaknya yang ingin disampaikan oleh Permenides. Segala sesuatu di dunia ini tidak berubah dan tetap.
Permenides tentu saja mengalami dengan indera-nya bagaimana perubahan alam terjadi. Namun, ia tidak dapat mempercayai hal tersebut. Permenides memiliki kecondongan yang kuat pada akal, ia memikirkan sebab-sebab kenapa alam tidak berubah dan merasa bahwa tidak diperlukan bukti-bukti di dunia materi atau inderawi. Ia hanya akan mempercayai apa yang dikatakan oleh akal nya.
Menarik untuk dicatat, bahwa Permenides termasuk tokoh pertama yang mempersoalkan logika. Meskipun penataan argumennya masih belum se-sempurna Aristoteles, langkah yang diambilnya telah membawa filsafat selangkah lebih maju. Karena mempercayai akal lebih dari apapun, Permenides dapat dikelompokkan kedalam seorang filsuf rasionalis.
Paham rasionalisme mengungkap keyakinan yang tak tergoyahkan pada akal manusia. Kemudian orang-orang yang menganut paham tersebut dinamakan seorang rasionalis.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert