-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Filsafat Awal: Sejarah Filsuf Alam Radikal di Miletos

19 Feb 2019
Filsafat, Sejarah, Filsafat Yunani

KS.id – Sudah menjadi hal yang biasa dalam sebuah peradaban kuno percaya kepada dewa-dewi yang mengatur alam semesta.  Manusia tak ubahnya hanyalah sebatas penerima ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh langit.  Sesuatu yang tak tercapai, dewa-dewi sebagai penentu kehidupan di bumi.

Namun, filsafat secara historis bermula dengan menentang pernyataan tersebut.  Ia mempertanyakan otoritas dewa-dewi dalam kehidupan di atas bumi.  Bagi para filsuf awal, yang tidak diketahui namanya, pikiran tentang dewa-dewi adalah hasil pikiran manusia.

Sosok dewa yang dipuja-puja telah banyak menemukan titik lemahnya dalam wujud yang dibayangkan manusia.  Kelemahan itu kemudian dipertanyakan oleh para filsuf awal sekitar tahun 600 SM di wilayah Yunani Kuno.

Kurang lebih pertanyaan awal yang mereka lontarkan adalah “Kenapa dewa-dewi memiliki sifat-sifat yang mirip dengan manusia

Hal tersebut masuk akal, mengingat di Yunani, Dewa memiliki sifat amarah, senang, sedih, bahkan hawa nafsu mengenai cinta, layaknya manusia biasa.  Timbullah kemudian asumsi yang menyatakan bahwa Dewa-Dewi hanyalah buah pikiran manusia

Para filsuf berpendapat, jika seekor sapi diberi kemampuan untuk berpikir dan berbicara, mungkin mereka akan mengungkapkan Dewa yang menyusui dan menghidupi rumput.

Tidak banyak catatan yang menjabarkan mengenai pemikiran-pemikiran tersebut.  Termasuk siapa tokoh pertama yang mencetuskannya.  Namun, selepas pernyataan tersebut, muncul tiga tokoh besar di Miletos yang sampai saat ini masyhur dan disebut sebagai para “Filsuf Alam.” 

Ini menandakan telah terbebasnya pemikiran masyarakat Yunani saat itu, terutama di salah satu ‘polis’nya, yaitu Miletos.

Thales

Filsafat, Filsafat Alam, Thales, Miletos, Miletus

Pertama-tama, yang menjadi bapak para filosof adalah Thales, begitu yang banyak diungkapkan oleh literatur-literatur populer tentang filsafat.  Thales adalah tokoh tertua yang pernah dicatat dalam sejarah pemikiran filsafat, tepatnya dalam catatan Aristoteles.
Tidak diketahui secara pasti kapan Thales dilahirkan, yang jelas ia merupakan salah satu warga Miletos, wilayah koloni Yunani yang ada di Asia Minor.  Daratan asli yang menjadi tempat asal orang-orang Yunani memiiliki kondisi kering dan sulit untuk mendapatkan kehidupan.  Itulah kenapa banyak orang-orang Yunani pergi marantau sampai ke wilayah Miletos. 

Diceritakan bahwa Thales adalah seorang saudagar kaya yang sering berlayar ke wilayah Mesir.  Ia menjadi salah satu tokoh terkemuka di Miletos karena memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dengan kecerdasannya tersebut, ia mempelajari ilmu matematika dan astronomi bangsa Babylonia untuk memprediksikan gerhana matahari yang terjadi tahun 585 SM.

Sebagai bapak dari para filsuf alam, Thales memiliki keresahan mengenai asal-usul dunia.  Ia mempertanyakan apa yang menjadi asal alam semesta? Bagaimana alam semesta di kemudian hari akan hancur

Dalam bahasa Yunani, Thales sebenarnya mencari fusis, yang artinya dzat yang menjadi asal mula segala sesuatu.

Thales menolak penjelasan mistis-mitologis yang saat itu banyak dipakai orang-orang Yunani untuk menjelaskan kemunculan dunia.  Ia berusaha menggunakan akalnya dan menyusun keterangan-keterangan untuk menemukan sebab terbentuknya dunia.  Meskipun saat itu belum ada alat untuk melakukan penelitian, Thales tetap yakin bahwa akal manusia mampu menjawabnya.

Sebagai seorang saudagar yang banyak berlayar, Thales akhirnya menemukan bahwa asal mula segala sesuatu adalah air.

Kemungkinan, ia memperhatikan bagaimana negeri Mesir menjadi makmur berkat sungai Nil.  Air adalah penybab dari segala kehidupan, begitu pikirnya.

Ditengah laut, air dapat menjadi begitu ganas dan menenggelamkan kapal-kapal.  Namun, di tepian pantai, tanah-tanah yang disapu air memunculkan kehidupan baru.  Begitulah air membawa benih kehidupan dan juga menghancurkan segalanya.

Semua bermula dari air dan berakhir dengan air, begitulah kesimpulan yang didapatkan oleh Thales.

Tentu saja untuk masa sekarang ini pendapat Thales terkesan 'mengada-ada' dan sembarangan.  Namun, memang perlu ditekankan bahwa berfilsafat bukan tentang hasil dari pertanyaan yang diajukan,  baik itu benar ataupun salah.  Yang terpenting dalam berfilsafat adalah pengolahan nalar yang sealamiah mungkin, disini Thales memberikan pola gerakan baru yang memerdekakan akal manusia.

Jawaban yang diungkapkan olehnya tidaklah penting karena peralatan yang dimilikinya saat itu hanya indera dan akal sehat.  Tapi, ia telah memulai sebuah langkah besar yang mengawali perjalanan panjang filsafat di Yunani.

Anaximandros

Filsafat, Filsafat Alam, Anaximander, Miletos

Pemikiran filsafat di Miletos kemudian dilanjutkan oleh murid Thales, yakni Anaximandros.  Menurut catatan, Anaximandros hidup dari tahun 610-547 SM.  Ia lima belas tahun lebih muda dari Thales, namun meninggal dua tahun lebih dahulu.  

Meskipun ia muid Thales, pemikirannya mengenai fusis (asal mula segala sesuatu), berbeda dengan gurunya tersebut.

Rasa ingin tahu yang dimiliki Anaximandros diwarisi dari gurunya, meskipun jawaban mereka berdua teramat berbeda.  Rasa ingin tahu tersebut berkisar pada: apa yang menjadi asal mula dari segala sesuatu di dunia? Adakah sebuah dzat yang menjadi dasar segalanya?

Sebagaimana gurunya, tradisi berpikir dengan memanfaatkan akal masih dilanjutkan oleh Anaximandros.  Bahkan, Anaximandros telah mampu menuangkan pemikirannya dalam tulisan, tidak seperti gurunya yang hanya mengajarkan melalui lisan.  Inti pemikiran Anaximandros adalah: segala sesuatu itu berasal dari satu, tetapi yang satu itu bukan air.

Ia menamai asal-usul segala sesuatu tersebut sebagai “apeiron.”  Menurutnya, apeiron itu tak terhingga dan tak terdefinisikan, itulah kenapa dzat tersebut dapat membentuk segala sesuatu.  Apeiron bukan air seperti yang dikatakan Thales, karena air memiliki batasan, yaitu api.

Inilah inti kemajuan yang dimiliki Anaximandros, ia mampu mengamati kontradiksi dzat-dzat alam dan menyusun argumen.  Segala sesuatu di dunia ini, menurutnya, dibatasi oleh kontradiksi: panas dibatasi dingin, terang dibatasi gelap, dan yang beku dibatasi oleh yang cair.  Itulah kenapa menurut Anaximandros apeiron bukanlah air ataupun unsur lain.

Menurutnya, dibutuhkan satu unsur yang tak terhingga dan tak terdefinisikan untuk membentuk yang dingin dan panas, yang terang dan gelap, dan yang beku dan cair.  Unsur tersebut dinamainya apeiron.

Anaximenes

Filsafat, Filsafat Alam, Anaximenes, Miletos

Filsuf terakhir yang berasal dari Miletos adalah Anaximenes, seorang murid dari Anaximandros.  Ia hidup dari tahun 585-528 SM.  Sebagai generasi terakhir filsuf Miletos, lagi-lagi pemikiran Anaximenes berbeda dengan gurunya.

Keadaan yang mengakhiri proses berfilsafat di Miletos diduga adalah serangan Persia yang berlangsung pada tahun 494 SM.  Semenjak penaklukan tersebut, berangsur-angsur orang-orang Yunani meninggalkan Miletos dan menghilanglah Miletos sebagai pusat filsafat.

Seperti pendahulunya, Anaximenes yang masih termasuk dalam kelompok “Filsuf Alam” di Miletos, memikirkan mengenai dzat apa yang membentuk segala sesuatu? Dan jawaban yang diberikan oleh Anaximenes adalah udara.

Ia tidak sepakat dengan pendapat gurunya yang mengatakan bahwa dzat yang membentuk segala sesuatu itu tak-tampak dan tak-terdefinisikan.  Menurutnya, pembentuk segala sesuatu yang tampak pasti tampak juga.  Menurutnya, pembentuk segala sesuatu itu adalah udara yang satu dan tak berhingga.

Udara telah membalut segala sesuatu yang ada di dunia ini.  Jika tidak ada udara, maka tidak ada kehidupan.  Begitulah dasar pemikiran yang diungkapkan oleh Anaximenes.

Pikiran-pikiran tersebut barangkali juga dipengaruhi oleh gurunya, Anaximandros, yang pernah mengatakan bahwa “Jiwa itu serupa dengan udara.”  Ia membayangkan bahwa jiwa yang mengisi manusia, dan berbagai kehidupan di bumi, adalah udara.  Apabila ditarik keluar udara dari tubuh manusia, maka yang terjadi adalah kematian. 

Baginya, makro-kosmos (alam) serta mikro-kosmos (manusia) adalah sama, terbentuk dari satu jiwa, yaitu udara.

Selain itu, yang menjadi kemajuan pikir Anaximenes adalah ia mulai mempertanyakan proses atau ragam pembentukan dari satu unsur tersebut.  Kurang lebih pertanyaannya adalah: “Gerakan apakah yang menjadi sebab alam terlahir dengan banyak ragam, padahal pembentuknya satu?”

Jawaban tersebut kemudian ditemukannya dalam pergerakan udara.  Udara selalu bergerak dan membantu kehidupan.  Sebagai seorang ahli ilmu alam, ia memperhatikan jikalau udara diam saja, maka tidak akan terjadi apa-apa di dunia.  Itulah kenapa udara akan selalu bergerak.

Dalam penjelasan lain, Anaximenes juga mengatakan bahwa api berasal dari udara yang dijernihkan.  Sementara itu, pemadatan udara akan membentuk awan, yang kemudian jika udara itu diperas lebih keras lagi maka akan turun air hujan.  Menurutnya juga, perasan yang semakin keras terhadap udara dapat menghasilkan tanah.

Itulah kenapa bagi Anaximenes, segala sesuatu di dunia ini adalah udara.  Udara menjadi unsur dasar yang membentuk segala sesuatu dan memastikan kehidupan tetap berjalan di atas bumi.

Sekali lagi, kemajuan olah pikir yang dicapai Anaximenes telah menunjukkan keseriusan dalam mengedepankan akal.  Tentu saja usaha tersebut membutuhkan energi yang tidak sedikit.  Akan tetapi ia, sebagai generasi terakhir filsuf miletos, semakin memperkaya pemikiran mengenai kemunculan alam semesta dengan mempertanyakan proses yang dialami unsur dasar (fusis) pembentuk segala sesuatu.
Share This :