![Sesuatu Dari Segala Sesuatu: Filsafat Alam Masih Terus Bergulir [Anaxagoras] Sesuatu Dari Segala Sesuatu: Filsafat Alam Masih Terus Bergulir [Anaxagoras]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUeWxqSYVCXJNb4EeL6jCICmTKTpSxWlLGQo3UZmEUAOJcdX8lsc6WP5vYVAPeRKF3HAlQkienL553kXojiv5ITMqio0u5lHzn5LCr1IHyd3HTENv7Ja3b2FqtNkivKGS50DNGc9u3046o/s640/Filosof_Alam_Anaxagoras_kenapasejarah2.jpg)
Pendapat tersebut dipatahkan Empedocles, karena menurutnya satu unsur―air misalnya―tidak akan membentuk manusia. Manusia, hewan, dan tumbuhan adalah gabungan proporsional antara air, udara, api, dan tanah, begitu kata Empedocles.
Namun pemikiran Empedocles tersebut kembali ditentang oleh Anaxagoras. Gagasan yang terkenal dari Anaxagoras adalah “Sesuatu dari segala sesuatu.” Itulah pembentuk alam yang dipikirkan oleh Anaxagoras. Kali ini kita akan banyak membahas hal tersebut.
Pengantar
Anaxagoras dilahirkan di Kota Klazomenae yang beradi di Asia Minor. Namun, pada usia 40 tahun, ia memutuskan untuk pindah ke Athena, ibu kota Yunani. Masa hidup Anaxagoras berkisar pada tahun 500 SM sampai 428 SM.
Menarik untuk diperhatikan bahwasannya Anaxagoras adalah filsuf pertama yang terdengar dari Athena. Disana ia mengajarkan filsafat kepada orang-orang Athena. Ia bahkan menjadi teman akrab pemimpin Kota Athena saat itu, yaitu Pericles.
Kebesaran Anaxagoras di Kota Athena banyak dibantu oleh Pericles. Namun, disaat yang sama, kesialan juga datang menghampiri Anaxagoras. Ia diusir keluar Athena setelah temannya itu turun tahta. Penyebabnya? Anaxagoras dianggap sebagai perusak agama orang-orang Yunani.
Saat itu, kepercayaan umum yang diterima di Athena adalah, bahwa matahari merupakan Dewa yang banyak membawa kemakmuran pada manusia. Anaxagoras tepat menentang pernyataan tersebut.
Menurutnya, matahari hanyalah sebuah bola panas yang besarnya melebihi seluruh wilayah peloponesia. Ia juga berpendapat bahwa bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri, bahwa bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Sementara itu, gerhana bulan, menurut Anaxagoras, terjadi karena cahaya matahari sedang ditutupi oleh bumi.
Setelah diusir dari Athena, Anaxagoras pindah ke Lampsakos. Di sanalah ia menjalani sisa hidupnya hingga bersemayam dengan tenang.
Pemikiran Anaxagoras
Anaxagoras adalah salah seorang tokoh yang masih termasuk dalam kelompok filsuf alam. Proyek filsafatnya banyak dicurahkan untuk mengamati alam, mencari tahu asal mula alam, serta bagaimana alam dapat membentuk dirinya sampai saat itu. Namun, pemikirannya sedikit berbeda dengan beberapa filsuf sebelum dia.
Seperti yang kita tahu, para filsuf Miletos telah bersepakat bahwa hanya ada satu unsur sebagai pembentuk alam seisinya. Kemudian pendapat tersebut dipatahkan oleh Empedocles.
Empedocles mengatakan bahwa terdapat 4 unsur yang membentuk dunia, itulah kenapa dunia selalu berubah, karena 4 unsur tersebut menyatu dan kemudian memisah. Keempat unsur tersebut, menurut Empedocles, digerakkan oleh kekuatan yang disebutnya sebagai ‘cinta’ dan ‘kebencian.’
Nah, agaknya pemikiran Anaxagoras berbeda dari semua filsuf diatas. Anaxagoras juga mempermasalahkan unsur pembentuk dunia. Namun, menurutnya, unsur tersebut tidaklah satu-jenis ataupun empat-jenis. Unsur-unsur pembentuk dunia, menurut anaxagoras, tak terhingga jenisnya.
Tiap-tiap jenis unsur selalu mewakili bentuk konkritnya yang ada di dunia nyata. Jadi, jika dunia ini dirupakan sebagai ‘segala-sesuatu’ maka, unsur-unsur pembentuknya adalah sesuatu terkecil dari ‘segala-sesuatu’ itu. Itulah kenapa ia menyebutnya sebagai “sesuatu dari segala-sesuatu.”
Menurut Anaxagoras tidak mungkin tulang dan darah manusia terbuat dari satu unsur―air misalnya―atau bahakan empat unsur―air, udara, api, dan tanah. Menurutnya pasti ada bagian terkecil dari tulang dan darah dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia.
Bagian terkecil dari ‘segala-sesuatu’ tersebut, menurut Anaxagoras tak kasat mata. Jumlahnya juga tak terbatas. Dan juga, yang terpenting, bagian terkecil tersebut, akan selalu mampu menggambarkan ‘bagian-besar’ nya.
Dalam novel Dunia Sophie, Jostein Gaarder, memisalkan pemikiran Anaxagoras ini sebagai sel manusia. Meskipun sel adalah bagian terkecil, ia mampu mengungkapkan warna kulit, jenis mata, bahkan jumlah dan jenis jari manusia. Itulah kenapa selalu terdapat ‘segala-sesuatu’ yang bisa dijelaskan oleh sesuatu terkecil.
Jika boleh saya beri sedikit contoh, kamu dapat memperhatikan barang-barang disekitar kamarmu. Terdapat apa saja disana? Apakah itu pensil, penghapus karet, ataupun mainan plastik? Jika Anaxagoras berada disana, mungkin ia akan mengungkapkan bahwa unsur-unsur pembentuk kamarmu adalah kayu, karet, dan plastik. Karena unsur-unsur pembentuk dunia, menurut Anaxagoras, memiliki jumlah yang sama banyaknya dengan keragaman benda-benda dan kehidupan di dunia.
Lalu bagaimana unsur-unsur yang terpisah-pisah dan begitu banyak jumlahnya dapat menjadi satu? Anaxagoras menyebutkan bahwa terdapat suatu kekuatan yang menggerakkan unsur-unsur tersebut. Kekuatan itu disebutnya sebagai “keteraturan.”
Kekuatan ‘keteraturan’ berada dimana-mana dan juga merupakan sebuah bentuk yang sangat lembut, begitu menurut Anaxagoras. Kekuatan tersebut menyatukan berbagai unsur hingga terbentuklah dunia. Seperti para filsuf Yunani lain, Anaxagoras mengandaikan kekuatan tersebut sebagai Tuhan.
Namun, tentu saja bukan Tuhan yang mengarah pada tradisi mistis-mitologis masyarakat Yunani, melainkan Tuhan yang meliputi seluruh alam semesta.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert