-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Pelajar Indonesia Pertama yang Belajar Terbang [Sekolah Curug]

20 Jan 2019
Kelompok Pelajar Indonesia Pertama yang Belajar Terbang [Sekolah Curug]


Pemilihan sekolah luar negeri terpaksa dilakukan mengingat belum tersedianya sekolah ‘penerbangan sipil’ milik Indonesia...

KS.id – Pelajaran terbang bagi orang-orang Indonesia merupakan hal baru yang bisa didapatkan setelah kemerdekaan.  Hal ini berkaitan dengan berdirinya NV.Garuda Indonesia Airways yang merupakan perusahaan penerbangan sipil pertama di Indonesia.  Sumber daya manusia yang handal tentu saja dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia saat itu demi mengisi kekurangan tenaga yang dialami.

Seperti yang kami bahas sebelumnya, yaitu mengenai kinerja maskapai Garuda Indonesia, sebagian besar tenaga yang berpengaruh saat itu berasal dari Belanda.  Pemerintah Indonesia yang memiliki saham terbesar masih belum bisa memberikan banyak pengaruh dalam operasional perusahaan.  Bahkan, keputusan-keputusan penting terkait maskapai yang berdiri sejak tahun 1950 ini sering kali tidak melibatkan pihak pemerintah Indonesia.

Kurangnya sumber daya manusia yang kompeten akhirnya memaksa pemerintah Indonesia saat itu, yang masih berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), mengirim pelajar-pelajar terbaik untuk belajar terbang.  Awalnya, mereka dikirim untuk belajar ke luar negeri dikarenakan masih belum tersedianya sekolah penerbangan.  Sampai akhirnya pada tahun 1952, barulah pemerintah Indonesia mampu mendirikan sekolah penerbangan untuk mendidik putera-puteri nya.  Seperti apa perkembangan lebih lengkapnya? Langsung saja check it out!

Pendidikan Pilot

Inisiatif untuk mengirim pelajar ke luar negeri dimiliki pemerintah Indonesia saat itu mengingat kubutuhan perusahaan yang semakin mendesak.  Hampir seluruh tenaga ahli dalam maskapai Garuda Indonesia merupakan orang-orang Belanda yang dulunya pernah bekerja di KLM-IB.  Apa itu KLM-IB? Kamu dapat membacanya disini.

Terlebih, upaya pemerintah untuk mendapatkan ‘kedaulatan ekonomi’ melalui perusahaan Garuda Indonesia haruslah dilakukan secara total.  Bukan hanya memiliki saham terbesar dalam perusahaan.  Pemerintah juga harus mampu melepaskan ketergantungan terhadap tenaga kerja asing, yang saat itu banyak diisi oleh orang-orang Belanda.

Akhirnya pemerintah Indonesia pun mulai menguji beberapa sekolah pilot di luar negeri yang nantinya akan menjadi tempat belajar bagi putera-puteri Indonesia.  Pemilihan sekolah luar negeri terpaksa dilakukan mengingat belum tersedianya sekolah ‘penerbangan sipil’ milik Indonesia di dalam negeri.  Pemerintah Indonesia kemudian memilih sekolah penerbangan yang ada di Hamble, Inggris.

Sekolah penerbangan di Inggris tersebut sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan perusahaan saat itu, yaitu bersertifikat resmi dari lembaga penerbangan internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO).  Selain itu, sekolah tersebut juga bersedia untuk memberikan beasiswa yang tentu saja akan meringankan beban biaya pemerintah Indonesia.  Pelajar yang lulus dari sana nantinya akan menggantikan posisi tenaga ahli yang diisi oleh orang-orang Belanda setelah Garuda Indonesia di nasionalisasi.

Selain di Inggris, sekolah penerbangan yang dipilih oleh pemerintah Indonesia adalah sekolah penerbangan Ypenburg di Belanda.  Keputusan itu sesuai dengan saran perusahaan KLM demi tercapainya familiarisasi perusahaan yang telah lama dikelola orang-orang Belanda.  Hingga beberapa tahun berikutnya, banyak pelajar Indonesia yang dikirim ke dua lembaga pendidikan penerbangan sipil tersebut hingga berdirinya sekolah penerbangan di Indonesia.

Sekolah Penerbangan di Luar Negeri

Setelah dipilihnya dua lembaga pendidikan tersebut, pemerintah akhirnya melakukan seleksi pelajar yang akan diberangkatkan kesana.  Akan dipilih beberapa pelajar Indonesia yang nantinya akan menempuh pendidikan pilot sesuai rencana pemerintah Indonesia saat itu.

Kelompok Pertama yang dikirim ke Inggris diberi nama Hamble-1.  Kelompok yang terdiri dari 15 orang terpilih tersebut berangkat pada tahun 1951.  Para siswa ini mendapatkan pendidikan intensif selama 6 bulan sebelum mereka melakukan praktek terbang.  Selain itu, mereka juga dibekali dengan berbagai macam materi terkait dunia penerbangan agar siap saat menjalankan tugas.

Ketika kelompok pelajar yang tergabung dalam Hamble-1 tengah menyelesaikan pendidikannya, Garuda Indonesia baru saja membeli pesawat De Havilland Heron.  Akibatnya, Hamble-1 harus melakukan penyesuaian ulang pendidikan mereka hingga mencapai standar untuk menerbangkan pesawat baru tersebut.  Mereka yang telah berhasil mendapatkan sertifikat dari ICAO, yaitu sejumlah 11 pelajar, harus dipulangkan 5 bulan lebih awal untuk mengisi kekosongan.

Pada pertengahan Desember 1951, pemerintah indonesia kembali mengirim kelompok kedua yang diberi nama Hamble-2.  Kelompok kedua ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang pertama, yaitu hanya sejumlah 13 orang.  Hingga tahun 1957, pemerintah Indonesia telah mengirimkan sebanyak empat kelompok ke Inggris.#

Sekolah Penerbangan di Dalam Negeri

Tepatnya 1 Juni 1952 sekolah penerbangan pertama berhasil didirikan di Indonesia.  Sekolah tersebut diberi nama Akademi Penerbangan Indonesia (API) yang berlokasi di Kemayoran.  Sekolah ini dibawah tanggung jawab langsung kementrian perhubungan Indonesia.

Dengan didirikannya sekolah tersebut, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap sarana pendidikan di luar negeri.  Pada tahun 1954, Sekolah penerbangan tersebut harus berpindah tempat ke Curug, Tangerang.  Lembaga ini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teknik Penerbangan (STTPI), atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai sekolah penerbangan curug.

Pada tahun 1954 sekolah penerbangan nasional ini telah memiliki jumlah peserta didik sebanyak 420 orang yang nantinya akan menggantikan tenaga kerja asing di Garuda Indonesia.  Bahkan, demi tercapainya pendidikan yang baik, pemerintah rela mengeluarkan dana yang semakin naik dari tahun ke tahun, dengan keterangan sebagai berikut: Rp 1,5 juta pada tahun 1954; Rp 5 juta tahun 1955; Rp 8 juta pada 1956; hingga Rp 8,5 juta pada tahun 1957.

Selain mengadakan pendidikan formal, terdapat pula pelatihan langsung yang diberikan oleh staf KLM dari perusahaan Garuda Indonesia.  Keunggulan pelatihan tersebut adalah peserta didik dapat langsung terjun ke lapangan dengan pesawat yang asli.  Hingga tahun 1956 total 500 orang teknisi siap kerja telah dihasilkan dari pendidikan formal dan pelatihan.


Demikian adalah sedikit informasi mengenai pelajar-pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan terkait dunia penerbangan pertama kali.  Semoga artikel yang termasuk dalam silabus sejarah Garuda Indonesia ini dapat bermanfaat.  Salam sejarah!

SUMBER

Wicaksono, D. A. (2016). Nasionalisasi Garuda Indonesia, 1950—1958. Lembaran Sejarah , 12, 109-131.
Seperti Burung Belajar Terbang dengan Sayap Sendiri: Garuda Indonesian Air Ways 1950-1958 (Irvan Sjafari)

Share This :