Pemilihan sekolah luar negeri terpaksa dilakukan mengingat belum tersedianya sekolah ‘penerbangan sipil’ milik Indonesia...
KS.id – Pelajaran terbang bagi orang-orang Indonesia merupakan hal
baru yang bisa didapatkan setelah kemerdekaan.
Hal ini berkaitan dengan berdirinya NV.Garuda Indonesia Airways yang
merupakan perusahaan penerbangan sipil pertama di Indonesia. Sumber daya manusia yang handal tentu saja
dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia saat itu demi mengisi kekurangan tenaga
yang dialami.
Seperti yang kami bahas sebelumnya, yaitu mengenai kinerja
maskapai Garuda Indonesia, sebagian besar tenaga yang berpengaruh saat itu berasal
dari Belanda. Pemerintah Indonesia yang
memiliki saham terbesar masih belum bisa memberikan banyak pengaruh dalam
operasional perusahaan. Bahkan,
keputusan-keputusan penting terkait maskapai yang berdiri sejak tahun 1950 ini
sering kali tidak melibatkan pihak pemerintah Indonesia.
Kurangnya sumber daya manusia yang kompeten akhirnya memaksa
pemerintah Indonesia saat itu, yang masih berbentuk Republik Indonesia Serikat
(RIS), mengirim pelajar-pelajar terbaik untuk belajar terbang. Awalnya, mereka dikirim untuk belajar ke luar
negeri dikarenakan masih belum tersedianya sekolah penerbangan. Sampai akhirnya pada tahun 1952, barulah
pemerintah Indonesia mampu mendirikan sekolah penerbangan untuk mendidik
putera-puteri nya. Seperti apa
perkembangan lebih lengkapnya? Langsung saja check it out!
Pendidikan Pilot
Inisiatif untuk mengirim pelajar ke luar negeri dimiliki
pemerintah Indonesia saat itu mengingat kubutuhan perusahaan yang semakin
mendesak. Hampir seluruh tenaga ahli
dalam maskapai Garuda Indonesia merupakan orang-orang Belanda yang dulunya
pernah bekerja di KLM-IB. Apa itu
KLM-IB? Kamu dapat membacanya disini.
Terlebih, upaya pemerintah untuk mendapatkan ‘kedaulatan
ekonomi’ melalui perusahaan Garuda Indonesia haruslah dilakukan secara total. Bukan hanya memiliki saham terbesar dalam
perusahaan. Pemerintah juga harus mampu
melepaskan ketergantungan terhadap tenaga kerja asing, yang saat itu banyak
diisi oleh orang-orang Belanda.
Akhirnya pemerintah Indonesia pun mulai menguji beberapa
sekolah pilot di luar negeri yang nantinya akan menjadi tempat belajar bagi
putera-puteri Indonesia. Pemilihan
sekolah luar negeri terpaksa dilakukan mengingat belum tersedianya sekolah
‘penerbangan sipil’ milik Indonesia di dalam negeri. Pemerintah Indonesia kemudian memilih sekolah
penerbangan yang ada di Hamble, Inggris.
Sekolah penerbangan di Inggris tersebut sesuai dengan
kriteria yang dibutuhkan perusahaan saat itu, yaitu bersertifikat resmi dari
lembaga penerbangan internasional atau International Civil Aviation
Organization (ICAO). Selain itu, sekolah
tersebut juga bersedia untuk memberikan beasiswa yang tentu saja akan
meringankan beban biaya pemerintah Indonesia.
Pelajar yang lulus dari sana nantinya akan menggantikan posisi tenaga
ahli yang diisi oleh orang-orang Belanda setelah Garuda Indonesia di
nasionalisasi.
Selain di Inggris, sekolah penerbangan yang dipilih oleh
pemerintah Indonesia adalah sekolah penerbangan Ypenburg di Belanda. Keputusan itu sesuai dengan saran perusahaan
KLM demi tercapainya familiarisasi perusahaan yang telah lama dikelola
orang-orang Belanda. Hingga beberapa
tahun berikutnya, banyak pelajar Indonesia yang dikirim ke dua lembaga
pendidikan penerbangan sipil tersebut hingga berdirinya sekolah penerbangan di
Indonesia.
Sekolah Penerbangan di Luar Negeri
Setelah dipilihnya dua lembaga pendidikan tersebut,
pemerintah akhirnya melakukan seleksi pelajar yang akan diberangkatkan
kesana. Akan dipilih beberapa pelajar
Indonesia yang nantinya akan menempuh pendidikan pilot sesuai rencana
pemerintah Indonesia saat itu.
Kelompok Pertama yang dikirim ke Inggris diberi nama
Hamble-1. Kelompok yang terdiri dari 15
orang terpilih tersebut berangkat pada tahun 1951. Para siswa ini mendapatkan pendidikan
intensif selama 6 bulan sebelum mereka melakukan praktek terbang. Selain itu, mereka juga dibekali dengan
berbagai macam materi terkait dunia penerbangan agar siap saat menjalankan
tugas.
Ketika kelompok pelajar yang tergabung dalam Hamble-1 tengah
menyelesaikan pendidikannya, Garuda Indonesia baru saja membeli pesawat De
Havilland Heron. Akibatnya, Hamble-1
harus melakukan penyesuaian ulang pendidikan mereka hingga mencapai standar
untuk menerbangkan pesawat baru tersebut. Mereka yang telah berhasil mendapatkan sertifikat dari ICAO, yaitu
sejumlah 11 pelajar, harus dipulangkan 5 bulan lebih awal untuk mengisi
kekosongan.
Pada pertengahan Desember 1951, pemerintah indonesia kembali
mengirim kelompok kedua yang diberi nama Hamble-2. Kelompok kedua ini jumlahnya lebih sedikit
dibandingkan dengan yang pertama, yaitu hanya sejumlah 13 orang. Hingga tahun 1957, pemerintah Indonesia telah
mengirimkan sebanyak empat kelompok ke Inggris.#
Sekolah Penerbangan di Dalam Negeri
Tepatnya 1 Juni 1952 sekolah penerbangan pertama berhasil
didirikan di Indonesia. Sekolah tersebut
diberi nama Akademi Penerbangan Indonesia (API) yang berlokasi di
Kemayoran. Sekolah ini dibawah tanggung
jawab langsung kementrian perhubungan Indonesia.
Dengan didirikannya sekolah tersebut, pemerintah berharap
dapat mengurangi ketergantungan terhadap sarana pendidikan di luar negeri. Pada tahun 1954, Sekolah penerbangan tersebut
harus berpindah tempat ke Curug, Tangerang.
Lembaga ini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teknik
Penerbangan (STTPI), atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai sekolah
penerbangan curug.
Pada tahun 1954 sekolah penerbangan nasional ini telah
memiliki jumlah peserta didik sebanyak 420 orang yang nantinya akan
menggantikan tenaga kerja asing di Garuda Indonesia. Bahkan, demi tercapainya pendidikan yang
baik, pemerintah rela mengeluarkan dana yang semakin naik dari tahun ke tahun,
dengan keterangan sebagai berikut: Rp 1,5 juta pada tahun 1954; Rp 5 juta tahun
1955; Rp 8 juta pada 1956; hingga Rp 8,5 juta pada tahun 1957.
Selain mengadakan pendidikan formal, terdapat pula pelatihan
langsung yang diberikan oleh staf KLM dari perusahaan Garuda Indonesia. Keunggulan pelatihan tersebut adalah peserta
didik dapat langsung terjun ke lapangan dengan pesawat yang asli. Hingga tahun 1956 total 500 orang teknisi
siap kerja telah dihasilkan dari pendidikan formal dan pelatihan.
Demikian adalah sedikit informasi mengenai pelajar-pelajar
Indonesia yang menempuh pendidikan terkait dunia penerbangan pertama
kali. Semoga artikel yang termasuk dalam
silabus sejarah Garuda Indonesia ini dapat bermanfaat. Salam sejarah!
SUMBER
Wicaksono, D. A. (2016). Nasionalisasi Garuda Indonesia, 1950—1958. Lembaran Sejarah , 12, 109-131.
Seperti Burung Belajar Terbang dengan Sayap Sendiri: Garuda Indonesian Air Ways 1950-1958 (Irvan Sjafari)
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert