-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Menghadapi Tekanan Kultural Menjelang SBMPTN

12 Jan 2019

Tekanan kultural ini tidak dapat kita lepaskan karena ia merupakan bagian dari realitas kehidupan...

KS.id – Sebagai seorang pelajar yang tunduk kepada sebuah sistem pendidikan di Indonesia, kita diharuskan melakoni serangkaian tes untuk dapat menempuh pendidikan tinggi. Tes tersebut berbagai macam, tergantung dengan instansi pendidikan tinggi yang kita tuju.  Salah satu yang paling populer tentu saja sistem seleksi SBMPTN.

SBMPTN adalah sistem resmi yang diselenggarakan setahun sekali untuk menyeleksi calon mahasiswa ke perguruan tinggi negeri.  Mengapa jalur ini begitu populer? Tentu saja karena besarnya keinginan siswa untuk dapat diterima di perguruan tinggi negeri.  Selain itu, mereka yang lolos melalui SBMPTN akan dianggap memiliki kualitas intelektual.

SBMPTN sendiri merupakan singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.  Mereka yang memilih SBMPTN biasanya belum diterima di seleksi-seleksi tahap awal, seperti SNMPTN.  Selain itu SBMPTN juga mengharuskan tes tulis, tidak seperti SNMPTN yang hanya membutuhkan nilai rapor.

Mereka yang akan melakoni tes masuk perguruan tinggi biasanya mengalami berbagai tekanan, baik itu kultural maupun struktural.  Tekanan tersebut wajar mengingat seberapa pentingnya proses tes tersebut.  Mereka yang gagal dalam SBMPTN misalnya, baru bisa mengikutinya kembali tahun depan, dan itu memakan waktu yang tidak sedikit.

Nah, dalam artikel kali ini kami ingin mengulas mengenai tekanan kultural yang mungkin muncul sebelum kamu tes SBMPTN.  Dengan mengerti beberapa tekanan dibawah ini kalian akan lebih siap untuk melakoni SBMPTN.  Apa itu tekanan kultural? Tekanan kultural adalah tekanan yang muncul akibat dari faktor-faktor kultural, seperti asumsi, sistem masyarakat, kondisi budaya sekitar, dsb.

Tekanan kultural ini tidak dapat kita lepaskan karena ia merupakan bagian dari realitas kehidupan.  Yang perlu kita lakukan adalah mengatasi hal tersebut dengan sebaik mungkin.  Berikut ini beberapa tekanan kultural yang sering muncul menjelang SBMPTN.

Budaya Gengsi


Gengsi atau keinginan untuk terus tempil baik di mata orang lain ternyata juga bisa menimbulkan tekanan untuk diri sendiri lho! Gengsi memang merupakan hal yang biasa menyerang kita ketika ingin menunjukkan kemampuan.  Tes SBMPTN adalah salah satu yang dapat menjerumuskan kita kedalam tekanan gengsi.

Bagaimana bisa gengsi menekanmu sebelum tes SBMPTN? Sebagai salah satu peserta tes yang bersaing dengan ribuan orang, pikiranmu akan selalu mengarah untuk menunjukkan diri (show off).  Bahkan di tingkat sekolah pun kamu dimungkinkan untuk merasakannya.  Saingan yang ada di sekeliling mu akan membuatmu meninggikan gengsi.

Akibatnya apa? Kamu akan lebih mudah untuk melakukan pilihan-pilihan yang salah.  Kamu hanya mengikuti gengsi semata dan kurang ‘jernih.’  Ya, ketika kalian diliputi gengsi pilihan yang kalian buat rawan menyerang diri kalian sendiri.

Lalu bagaimana mengatasinya? Cobalah untuk terus meragukan pilihanmu.  Pikirlah sekali dua kali terlebih dahulu sebelum kamu membuat pilihan.  Siapa tahu pilihan mu tersebut bukan yang terbaik, lihat potensimu.  Pilihan yang saya maksud disini adalah terkait jurusan, bimbel, pertemanan, cinta, hingga keluarga.

Ketakutan Untuk Ujian


Ujian atau tes masuk bagaikan momok yang menakutkan bagi siswa.  Hal ini sebenarya adalah faktor kultural yang harus dihindari.  Kenapa tidak menjadikan ujian menyenangkan? Ya, itu karena faktor kultural atau kebudayaan yang telah mendarah daging sehingga membentuk pola pikir.

Lalu apakah bisa untuk menjadi tidak takut? Jawabannya bisa ya dan tidak.  Ketakutan adalah hal yang wajar bagi manusia.  Bahkan ketakutan adalah semacam ‘alarm’ alami yang diciptakan oleh tuhan untuk menandai bahwa sedang ada bahaya.

Bayangkan jika manusia tidak merasa ketakutan, dia tidak akan dapat mengenali bahaya dan mungkin populasi manusia tidak akan sebanyak hari ini.  Lalu untuk mengatasi ketakutan bagaimana? Intinya adalah dengan merubah ‘bahaya’ menjadi hal yang ‘biasa.’  Terbiasalah untuk melakukan ataupun menghadapi suasana ujian.

Kamu bisa melakukan hal tersebut dengan membuat simulasi ujian kecil-kecilan di rumah.  Undang beberapa temanmu juga untuk melakukan hal tersebut sehingga terasa suasananya.   Jika tidak, sering-seringlah mengikuti ‘try out’ atau paling tidak sekedar mengerjakan soal dengan timer.

Suasana persaingan yang tidak sehat


Suasana persaingan tidak sehat dapat muncul ketika menjelang SBMPTN.  Ya, SBMPTN bisa merubah teman menjadi saingan.  Kamu atau teman-temanmu akan saling merahasiakan, atau bahkan memalsukan pilihan-pilihan kalian untuk mengurangi persaingan.

Dalam beberapa kasus bahkan hal tersebut sering membuat kalian bertengkar atau sekedar naik pitam.  Jika kalian tidak mengalami hal tersebut, maka bersyukurlah dengan teman kalian hari ini.  Namun, jika kalian mengalami, maka segeralah untuk berkomunikasi dengan teman.

Seperti yang sudah disebutkan diatas berusahalah untuk menjadikan suasana menjelang ujian menyenangkan.  Bahkan dengan orang-orang yang nantinya akan menjadi sainganmu.  INGAT Saling berbagi informasi tidak akan membuat kalian rugi, justru kalian akan saling melengkapi.

Harapanmu dan harapan orang tua


Dua hal diatas sering sekali berbenturan, hal itu wajar karena ada perbedaan zaman dan tentu saja kultural.  Orang tua adalah mereka yang merawat kita, dan peduli terhadap perkembangan kita.  Namun, mereka juga sering dianggap, justru sebagai penghalang cita-cita.

Sebelum memutuskan berbagai hal terkait SBMPTN, mungkin kalian adalah salah satu yang akan mengalami hal ini juga.  Terlebih kalian yang ingin memilih jurusan yang kurang populer dalam masyarakat.  Kalian akan lebih rentan untuk mengalami hal seperti ini.

Bagaimana untuk menghadapi hal yang rumit ini? Pertama kalian haruslah mantab dengan apa yang kalian pilih terlebih dahulu.  Setelah terus meragukan pilihan kalian, jadilah semakin mantab dengan hal itu, dengan pilihan kalian.  Lalu, berusahalah untuk membuktikan pilihan dengan kerja keras.

Kalian yang sudah bisa menciptakan produk sendiri, yang sesuai dengan minat, cobalah untuk membuat kecil-kecilan.  Anggap saja itu merupakan prototype kalian yang menunjukkan keseriusan.  Usahakan semaksimal mungkin bahwa orang tua dapat melihat keseriusanmu.

Lalu jika itu masih tidak berhasil? Mintalah kepada tuhan mu.  Jangan lupa bahwa terkadang ada hal-hal diluar kekuasaan kita, dan jangan lupa juga bahwa tuhan maha baik.  Dan jika memang keadaan sudah tidak memungkinkan bagimu untuk memaksakan pilihan, merasa banggalah kawan, kamu akan menjadi salah satu anak yang berbakti terhadap orang tua.  Jangan lupakan itu!

Nah itulah beberapa hal terkait tekanan kultural yang akan kalian alami menjelang pelaksanaan SBMPTN.  Sudah siapkah kalian? `jika belum, persiapkanlah mulai detik ini juga.  Karena kesempatan yang sama tidak akan datang padamu dua kali.

Share This :