
Bukti nyata dari kesuksesan manajemen saat itu adalah profit atau keuntungan yang terus meningkat sejak tahun pertama beroperasi.
KS.id – NV.Garuda Indonesia Airways (GIA) awalnya merupakan sebuah perusahaan gabungan antara pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan perusahaan KLM-IB milik Belanda. Sebelumnya kami telah membahas bagaimana asal-usul Garuda Indonesia, juga Nasionalisasi Garuda Indonesia, dan yang terakhir yang pernah kami bahas adalah Aset Awal Garuda Indonesia. Nah untuk semakin melengkapi silabus Sejarah Garuda Indonesia, kali ini kami akan memaparkan mengenai kinerja NV.Garuda Indonesia Airways (GIA) di awal terbentuknya.
Tahun Pertama (1950)
Semenjak penerbangan pertama yang dilakukan untuk memindahkan Presiden Soekarno dari Jogjakarta menuju Jakarta, kinerja Garuda Indonesia menunjukkan hasil yang cukup positif. Pada awal dioperasikan, komposisi angkutan maskapai ini terdiri dari 63% penumpang, 29% kargo, serta 8% pos udara. Sementara itu, jam terbang maskapai ini telah mencapai 40.371 flying hours di tahun pertama.
Dari jumlah flying hours tersebut masing-masing diperoleh oleh pesawat Dakota DC-3 sebanyak 36.112 jam, kemudian disusul pesawat Catalina sebanyak 3.406 jam terbang, dan yang terakhir adalah pesawat Convair-240 dengan 853 jam terbang. Jika dikalkulasi maskapai Garuda Indonesia yang baru saja berdiri ini juga telah mampu mengangkut sebanyak 288.331 orang di tahun pertamanya.
Jumlah tersebut diraih masing-masing oleh 3 pesawat yang sama, yaitu pesawat Dakota DC-30 sebanyak 15.320 penumpang, juga pesawat Catalina yang mengangkut tidak kurang dari 15.320 penumpang, serta pesawat Convair-240 sebanyak 7.388 penumpang. Kinerja yang cukup gemilang pada tahun pertama tersebut semakin dilengkapi dengan tingkat keterisian penumpang (self load factor) yang cukup tinggi yaitu rata-rata mencapai 76% di setiap penerbangan. Seluruh catatan diatas membuktikan asumsi pemerintah terkait pentingnya penerbangan sipil bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Tahun Keempat (1953)
Catatan di tahun keempat operasional NV.Garuda Indonesia Airways juga tidak kalah baik jika dibandingkan tahun pertamanya. Hal itu terbukti dari peningkatan penumpang yang terjadi drastis yaitu sebanyak 307.757 penumpang di tahun keempat ini. Termuat dalam harian Het Nieuwsblad voor Sumatra, setidaknya armada ini mengangkut sebanyak 900 penumpang setiap harinya. Kargo dan pos udara yang diangkut Garuda Indonesia juga mengalami peningkatan menjadi 450 ton.
Manajemen Yang Baik
Tidak dapat dipungkiri bahwa sederet catatan dari kinerja maskapai di tahun-tahun awal ini, atau sekitar tahun 1950-an, merupakan berkat dari manajemen yang baik. Kemampuan untuk mengelola perusahaan secara efisien dan terukur mampu mendatangkan kinerja yang optimal. Meskipun harus kita akui pula bahwa jajaran manjemen Garuda Indonesia saat itu masih didominasi oleh orang-orang Belanda.
Bukti nyata dari kesuksesan manajemen saat itu adalah profit atau keuntungan yang terus meningkat sejak tahun pertama beroperasi. Bahkan, masih menurut harian Het Nieuwsblad voor Sumatra, keuntungan Garuda Indonesia mencapai 175 juta rupiah. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 158 juta rupiah.
Tentu saja ada beberapa strategi yang terbukti sukses untuk mendapatkan keuntungan yang terus meningkat tersebut. Setidaknya ada 3 poin utama strategi, sebagai berikut:
Efisiensi
Manajemen Garuda Indonesia telah mampu meminimalkan biaya operasional perusahaan dengan berbagai cara. Pertama mereka mampu memaksimalkan pesawat yang tersedia untuk memperbanyak perjalanan menuju rute dengan keuntungan yang besar. Yaitu rute-rute yang tidak memakan terlalu banyak biaya namun memiliki jumlah pelanggan yang banyak.
Manajemen saat itu juga terus mengupayakan untuk menambah armada pesawat di Garuda Indonesia melalui strategi yang tepat. Bahkan demi mewujudkan upaya tersebut, mereka melakukan sistem kanibalisasi pesawat yang tidak terpakai. Mereka mengambil bagian yang masih layak digunakan sebagi cadangan mesin bagi armada pesawat yang beroperasi saat itu, sehingga biaya dapat ditekan.
Melakukan Ekspansi Dengan Tepat
Sebuah bisnis tentu saja memerlukan ekspansi untuk memperbesar cakupan bisnisnya, atau bahkan demi keberlangsungan hidup perusahaan. Dalam bisnis penerbangan, ekspansi yang dimaksud adalah dengan ditambahnya rute baru penerbangan. Variasi rute penerbangan tentu saja akan menambahkan jumlah pelanggan bagi perusahaan tersebut, dengan catatan harus berhati-hati agar tidak salah dan mengalami kerugian.
Saat awal beroperasi, Garuda Indonesia masih mempertahankan rute yang dahulu pernah dipakai oleh perusahaan KLM-IB asal Belanda. Alasannya tentu saja karena rute-rute tersebut telah terbukti memiliki jumlah pelanggan yang cukup banyak. Selain itu, mereka juga mengatasi kemungkinan kerugian yang dialami perusahaan di awal berdirinya.
Sementara itu, pada tahun kedua, armada yang baru berdiri pada tahun 1950 ini memutuskan untuk menambah rute baru, yaitu menuju Singapura. Pemilihan rute tersebut cukup masuk akal sehingga mampu menghasilkan pelanggan dengan jumlah yang cukup stabil. Ekspansi perusahaan penerbangan ini kemudian dilanjutkan menuju Bangkok dan Manila.
Strategi Pemasaran
Ini merupakan faktor terakhir yang juga tidak kalah penting dalam menentukan kesuksesan Garuda Indonesia di awal berdirinya. Meski dengan modal yang besar, tanpa strategi pemasaran yang baik sebuah perusahaan akan cepat mencapai kebangkrutan. Strategi pemasaran ini tentu saja meliputi pengenalan produk, perekrutan tenaga kerja, serta penawaran-penawaran lain yang akan melambungkan nama Garuda Indonesia.
Pada awalnya, Garuda Indonesia hanya sekedar melakukan sosialisasi mengenai manfaat dari angkutan udara. Namun, diluar dugaan, respon masyarakat saat itu sangatlah positif terhadap kemunculan Garuda Indonesia. Akhirnya maskapai ini pun mulai gencar mengiklankan produknya, terutama melalui surat kabar.
Hampir seluruh surat kabar yang terbit saat itu memuat iklan dari Garuda Indonesia. Strategi untuk menggencarkan periklanan ternyata sukses besar. Garuda Indonesia pun akhirnya mulai mencari dan bekerja sama dengan agen untuk mempermudah reservasi tiket penerbangan.
Baca juga : Asal-Usul Garuda Indonesia
Nah, begitulah sedikit penjabaran mengenai kinerja Garuda Indonesia di awal terbentuknya perusahaan ini. Artikel ini merupakan hasil studi penulis dari salah satu jurnal yang diterbitkan oleh UGM. Segala bentuk upaya untuk melakukan plagiarisme akan dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku.
Salam sejarah, Semoga bermanfaat!
SUMBER
Wicaksono, D. A. (2016). Nasionalisasi Garuda Indonesia, 1950—1958. Lembaran Sejarah , 12, 109-131.
Share This :
comment 0 Komentar
more_vert